«

»

Membumikan Silaturahmi

18 Juni 2019

Suasana bulan Syawal begitu kental dengan kegiatan silaturahmi. Setelah kaum muslimin melaksanakan salat ied, mereka langsung bersalaman antar jamaah salat ied. Kemudian ketika kembali ke rumah, bersalaman antar sesama anggota keluarga untuk saling bermaafan. Setelah itu bersalaman dengan tetangga di lingkungan tempat tinggal.

Kemudian setelah itu saling mengunjungi kerabat dan saudara, baik dalam kota maupun luar kota. Bagi yang masih memiliki orang tua atau keluarga dekat, tidak sedikit yang melakukan mudik agar bisa berlebaran bersama orang tua dan keluarga dekat mereka di kampung halaman.

Selain itu, dengan adanya media sosial, seperti Whats App, mereka saling memberikan ucapan lebaran kepada siapa saja yang dikenal, baik anggota keluarga, teman sekolah, teman kantor, anggota komunitas, dan lainnya.

Dan ketika masuk kantor atau sekolah, mereka saling bersalaman untuk saling bermaafan. Kemudian juga dilakukan kegiatan halal bihalal. Terlihat di sini, silaturahmi begitu kuat dilakukan oleh kaum muslimin. Selain karena momentum lebaran, sesungguhnya fitrah manusia memang ingin selalu berkumpul. Maka momentum lebaran merupakan saat yang tepat bagi kaum muslimin untuk berkumpul dan bersilaturahmi.

Silaturahmi sesungguhnya merupakan kebutuhan kaum muslimin dan juga umat manusia secara umum. Karena dengan silaturahmi bisa menghilangkan berbagai prasangka, dan memperkuat persaudaraan, juga menambah rezeki.

Dalam konteks bangsa dan negara, silaturahmi juga akan dapat meningkatkan ketahanan nasional, memperkokoh persatuan dan kesatuan, mengecilkan kesenjangan sosial, memperlancar pembangunan, serta menguatkan modal sosial sebuah bangsa.

Sesungguhnya silaturahmi tidak harus dilakukan di momentum lebaran saja, karena di luar lebaran begitu banyak waktu yang bisa digunakan untuk silaturahmi. Bahkan jika seorang muslim menjadikan silaturahmi sebagai suatu kebutuhan, ia pasti akan memperbanyak silaturahmi dan juga meningkatkan kualitas silaturahmi tersebut.

Sebagai contoh, seorang pencipta lagu atau musisi yang sedang kebingungan dalam membuat sebuah lagu memutuskan untuk melakukan silaturahmi ke temannya yang sudah tidak lama bertemu. Ketika bertemu dan berbincang-bincang tiba-tiba ia mendapatkan ide untuk sebuah lagu baru. Selain mendapatkan pahala, ia pun mendapatkan ide baru menulis sebuah lagu.

Contoh lain, seorang yang sedang sakit tiba-tiba mendapat kunjungan dokter yang pernah menyembuhkan penyakitnya di masa lalu. Betapa senangnya ia dikunjungi dokter yang dikenalnya amat baik hati tersebut. Karena ia begitu gembira, maka hilanglah penyakitnya dan merasa sehat kembali. Dan dokter yang mengunjungi juga senang, karena dengan silaturahmi kepada seorang yang sedang sakit dan pernah menjadi pasiennya, ternyata menjadi sehat kembali.

Dan masih banyak contoh yang merupakan kisah nyata banyak orang di mana dengan silaturahmi begitu banyak hal positif yang didapat. Baik berupa kesembuhan dari penyakit, munculnya ide baru yang brilian, bertambahnya rezeki dari arah yang tidak diduga, hilangnya dendam, dan lainnya.

Oleh sebab itu, mari kita perbanyak silaturahmi dengan tulus ikhlas. Agar niat kita bersilaturahmi mendapatkan balasan dari Allah Swt dengan sebaik-baik balasan. Jangan pula silaturahmi hanya karena ada kepentingan belaka, sehingga merugikan pihak lain.

Kita perlu membumikan silaturahmi saat ini. Karena ada kecenderungan bahwa sebagian kita lebih menikmati dunia maya dalam kehidupan sehari-hari. Data naiknya jumlah pengguna internet di Indonesia dari 42 juta jiwa di 2010 menjadi 171,2 juta jiwa di 2018 setidaknya bisa menjelaskan bahwa orang semakin menggemari interaksi di dunia maya, dan melupakan dunia nyata.

Di dunia maya, setiap orang bisa menyampaikan amarah, emosi, protes, bahkan terikut menyebarkan informasi atau berita hoaks tanpa terkendali. Media sosial semacam Whats App pun menjadi ajang caci maki yang tak henti. Dunia maya menjadi semacam candu bagi orang-orang pemarah. Padahal hidup manusia adalah di dunia nyata. Alangkah baiknya jika mereka yang kerap marah di dunia maya memikirkan kehidupannya yang riil, sehingga diri dan keluarga pun jadi terperhatikan.

Interaksi yang sehat di dunia maya seharusnya bisa menebar hal positif, atau memposting konten positif, dan juga sebagai media silaturahmi sehingga memberikan manfaat kepada orang banyak.

Dengan silaturahmi sesungguhnya seorang muslim telah membuktikan keimanannya kepada Allah Swt dan hari akhir, serta merupakan bentuk ketaatan kepada Allah Swt. Muslim yang melakukan silaturahmi juga dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya. Silaturahmi yang dilakukan seorang muslim juga merupakan jalan menuju surga dan dijauhkan dari neraka, serta pahalanya seperti memerdekakan budak. Bahkan sedekah yang dilakukan seorang muslim kepada keluarga dekatnya pahalanya ada dua, yaitu pahala sedekah dan silaturahmi.

Semoga kita bisa kembali lagi ke fitrah diri kita sebagai manusia yang memiliki kecenderungan untuk berkumpul dan bersilaturahmi di dunia nyata. Sehingga hidup kita dan juga keluarga kita bisa semakin baik. Ini jelas berdampak positif terhadap kinerja di organisasi, kantor, lembaga, atau komunitas. Dan momen lebaran adalah saat yang tepat untuk melakukannya atau kembali memulainya. Tidak ada kata terlambat untuk memulai suatu kebaikan yang manfaatnya sungguh banyak untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang, 18 Juni 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>