«

»

Merajut Persatuan

12 Juni 2019

Alhamdulillah, kita telah sampai di bulan Syawal. Bulan yang penuh suasana persaudaraan, juga penuh dengan semangat untuk berkumpul, bersilaturahmi, bergerak membangun harapan baru.

Sebelumnya, kita melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh di bulan Ramadan. Dan meskipun sudah masuk bulan Syawal, suasana Ramadan masih memberi warna pada kehidupan kita saat ini. Berpuasa setidaknya menjadikan kita menahan haus dan lapar, juga amarah dan syahwat. Maka itu artinya, jiwa kita dilatih untuk menahan diri. Sesuatu yang cukup sulit dilakukan oleh kebanyakan orang. Karena umumnya kebanyakan orang memperturutkan egonya.

Maka ketika selesai menjalankan ibadah puasa dilanjutkan salat ied, jiwa kita sangat mudah untuk bersilaturahmi, bermaafan satu sama lain. Senyum dan keikhlasan mewarnai diri kita ketika bersilaturahmi dan saling bermaafan. Karena jiwa sudah dilatih selama sebulan penuh di bulan Ramadan.

Tak heran ketika di bulan Syawal, suasana kegembiraan hari raya diiringi dengan kegiatan silaturahmi untuk bermaaf-maafan dilakukan oleh seluruh umat Islam. Nikmat persaudaraan terasa begitu indah. Betapa kita sebenarnya memiliki banyak kesamaan sehingga lebih senang bersatu dibanding terpecah. Ternyata dengan melatih diri untuk menahan ego, seperti di bulan Ramadan, kita memiliki potensi besar untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan.

Rasanya amat rugi jika di bulan Syawal kita masih menyimpan amarah, dendam, emosi, yang hanya akan merugikan diri kita sendiri. Padahal di bulan ini kita banyak bertemu dengan orang-orang tua kita, saudara kita, keluarga dekat dan jauh, teman kecil dan sekolah, rekan kerja, sahabat, kawan lama, saudara jauh, dan lainnya.

Sesungguhnya setiap kita bersalaman dalam acara silaturahmi, baik di lingkungan rumah, lingkungan kantor, lingkungan alumni sekolah, lingkungan lainnya, ada energi positif yang masuk ke dalam diri kita dan juga energi positif yang masuk kepada orang lain. Tentunya itu didapat ketika kondisi hati kita dalam keadaan ikhlas. Apalagi di acara tersebut juga diikuti dengan doa, baik doa untuk kebaikan diri, keluarga, masyarakat, instansi, sekolah, maupun lainnya.

Dalam sebuah hadis disebutkan tentang manfaat bersalaman. “Tidaklah dua orang muslim saling bertemu kemudian berjabat tangan, kecuali akan diampuni dosa-dosa mereka berdua sebelum mereka berpisah” (HR. Abu Dawud no. 5212).

Dengan melihat hal demikian, maka suasana di bulan Syawal sangat mendukung kita untuk kembali merajut persatuan. Kita memang baru saja menyelesaikan pemilihan presiden dan wakil presiden, serta pemilihan anggota legislatif. Dan itu menyebabkan timbulnya kutub yang saling berkompetisi. Tetapi kompetisi itu sudah lewat, meskipun proses pengadilan sedang berlangsung untuk mengadili sengketa yang ada. Kini saatnya membangun persatuan, persaudaraan, dan ukhuwah. Momen ini harus kita ambil. Jangan sampai terlewat. Karena sesungguhnya momen ini juga merupakan pemberian Allah Swt kepada kita untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Jika bukan kita yang mulai merajut persatuan itu, maka tidak mungkin menunggu pihak lain untuk memulainya. Bahkan Allah Swt juga berfirman bahwa suatu kaum tidak akan bisa berubah nasibnya jika bukan kaum itu sendiri yang melakukannya. Dalam Alquran surat Ar-Ra’d ayat 11 Allah Swt berfirman yang artinya, ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu mengubah sendiri apa yang ada pada diri mereka”.

Semoga di momen “kembali ke fitrah” ini kita secara bersama-sama bisa kembali merajut persatuan yang sempat terkoyak akibat adanya kompetisi dalam berdemokrasi. Sehingga kita bisa memprioritaskan berbagai hal positif yang ada pada diri kita untuk dijadikan modal membangun daerah dan kampung kita, juga bangsa dan negara. Jangan sampai kita terhanyut dengan posisi menang atau kalah, karena hal demikian bisa menyebabkan kita tidak berpikir rasional yang berujung kepada kerugian diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa.

Selain itu, untuk hal-hal yang memang ada di luar kemampuan diri kita sudah selayaknya kita serahkan kepada Allah Swt, Yang Maha Mengatur kehidupan ini. Jangan biarkan diri kita habis termakan emosi yang tidak berkesudahan. Jangan biarkan orang lain senang dengan kondisi kita yang tidak bersatu, karena justru akan membahayakan kita.

Semoga dengan bekal Ramadan dan suasana Syawal, kita bisa merajut persatuan dan kesatuan dari lingkungan terdekat kita hingga ke yang lebih luas lagi. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Padang Ekspres, 12 Juni 2019 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>