«

»

Tahun Baru Semangat Baru

31 Desember 2019

Alhamdulillah, kita diberikan nikmat oleh Allah Swt berupa pertambahan usia di tahun 2019. Dan kini kita memasuki tahun 2020.

Bagi masyarakat banyak, pergantian tahun umumnya selama ini masih banyak yang mengisinya dengan menanti masuknya awal tahun yang baru sambil begadang, atau mencari hiburan. Di negara-negara maju yang ekonominya sangat baik, pergantian tahun dihiasi dengan pesta kembang api yang sangat meriah dan menelan dana yang besar.

Di Indonesia, sebagian penduduk mendatangi pusat-pusat keramaian dan berdiam di sana menunggu datangnya pergantian tahun. Ada yang bersiap dengan terompet yang akan ditiup ketika masuk tahun yang baru.

Selain itu, ternyata menjelang malam pergantian tahun penjualan kondom sangat laris dari tahun ke tahun. Baru-baru ini diberitakan larisnya penjualan kondom di sebuah provinsi di sebuah pulau luar Sumatera. Hal ini membuat kita turut prihatin. Karena demi mengejar kenikmatan sesaat rela mengorbankan masa depan yang seharusnya bisa dicapai lebih baik.

Melihat hal yang demikian, sudah beberapa tahun ini semakin banyak pemerintah daerah dan juga elemen masyarakat yang mengarahkan kegiatan menunggu datangnya tahun yang baru dengan kegiatan keagamaan, seperti tabligh akbar, ceramah, zikir, dan kegiatan positif lainnya.

Dengan melihat hal ini, maka sudah seharusnya pergantian tahun diarahkan kepada kegiatan positif. Bukan yang bersifat hura-hura sehingga menyuburkan pergaulan bebas dan penyebaran penyakit serta penyakit sosial lainnya yang berdampak negatif kepada masyarakat. Karena setelah melewati malam pergantian tahun, yang umum terjadi esoknya sampah berserakan di bekas tempat merayakan tahun baru dan yang begadang tidur di rumah selama seharian. Awal tahun yang baru seperti layaknya hari-hari yang sudah lalu, tidak ada suatu perubahan positif yang seharusnya bisa terjadi. Kenikmatan sesaat di malam pergantian tahun menyebabkan orang terkesan menjadikan tahun yang baru bukan untuk mempersiapkan diri lebih baik.

Kenikmatan sesaat tidak memberikan dampak positif yang nyata bagi perkembangan atau kualitas hidup seseorang. Jika saja awal tahun yang baru dijadikan target untuk “berlari cepat” memanfaatkan waktu yang ada, maka di akhir tahun yang lama telah dilakukan evaluasi agar semakin baik di tahun depan. Dan salah satu caranya adalah berpikir agar tidak hura-hura atau melakukan perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain di akhir tahun.

Evaluasi diri atau muhasabah adalah salah satu hal positif yang bisa dilakukan, baik di akhir tahun maupun di awal tahun. Dengan mengevaluasi diri sekaligus mendekatkan diri kepada Tuhan, maka seseorang akan termotivasi untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Tanpa evaluasi diri, seseorang tidak bisa mengetahui apa yang salah atau perlu diperbaiki dalam setahun terakhir. Padahal mungkin saja, akibat kelalaian diri atau perilaku diri yang tidak pada tempatnya menyebabkan terhambatnya rezeki yang seharusnya datang kepadanya.

Dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT, seseorang bisa mengubah perilaku dirinya yang negatif kepada orang lain karena ia telah mengaku dan sadar akibat dari perbuatannya itu. Sehingga ia berjanji kepada dirinya untuk mengubah perilakunya itu di tahun yang baru. Sebaliknya, jika di akhir tahun hanya sekedar berhura-hura, yang didapat hanyalah kepuasan sesaat di malam itu dan esoknya lelah, tertidur. Rezeki yang seharusnya bisa datang kepada dirinya akhirnya menjadi terhambat karena tidak pernah melakukan evaluasi atau perenungan diri yang objektif.

Allah Swt berfirman dalam Alquran surat Al-Ashr ayat 1-3 yang artinya, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.”

Barangkali kita bisa merenungkan ungkapan yang terkenal dari dunia barat, “time is money” (waktu adalah uang). Dalam sisi positif, orang yang beranggapan “waktu adalah uang” akan menghargai waktu yang dia miliki, sehingga ia akan berpikir untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin dan menghindari hal yang tidak baik serta menetapkan prioritas kegiatan yang positif dan berdampak kepada kemajuan dirinya.

Tak heran jika di negara-negara barat yang umumnya sudah maju, cara pikir orang dalam memanfaatkan waktu menjadikan perekonomian negaranya berada di tingkat kesejahteraan yang sangat baik. Gabungan kerja keras dan memanfaatkan waktu yang efektif menjadikan daya saing negara-negara maju ini mengalahkan negara-negara berkembang. Sayangnya masyarakat hanya tahu hal negatif dari orang-orang di negara maju, seperti pergaulan bebas atau liberalisme. Dan tidak mempelajari budaya-budaya positif yang menyebabkan negara mereka maju dan sejahtera.

Dengan semakin banyaknya seruan dari berbagai pemerintah daerah dan elemen masyarakat untuk menjadikan pergantian tahun sebagai sarana evaluasi diri guna menjadikan hidup lebih baik di tahun yang baru, semoga semakin banyak orang yang memulai tahun baru dengan hal positif yang bermanfaat. Dan mengakhiri tahun yang lama juga dengan cara yang baik dan positif yang bermanfaat bagi diri, keluarga dan masyarakat ke depannya.

Dengan demikian, kita bisa memasuki tahun baru dengan semangat baru, serta yakin akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik ke depannya diiringi evaluasi diri yang obyektif. Selamat memasuki tahun yang baru, 2020. Semoga Allah Swt meridai upaya kita di tahun yang baru sehingga banyak kebaikan yang bisa kita peroleh di tahun ini. Amin. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Harian Padang Ekspres 31 Desember 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>