«

»

Hijrah ke Adaptasi Kebiasaan Baru

26 Agustus 2020

Alhamdulillah, saat ini kita sebagai muslim baru saja memasuki tahun yang baru. Yaitu tahun 1442 Hijriah. Penetapan tahun hijriah sebagai pedoman penanggalan bagi kaum muslimin dilakukan di masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khaththab. Penghitungannya dimulai sejak Nabi Muhammad Saw hijrah dari Mekah ke Madinah.

Hijrahnya Nabi Saw ke Madinah dilatarbelakangi penyiksaan dan penindasan serta pemboikotan oleh kaum kafir Mekah kepada kaum muslimin. Di antara kisah pilu selama hidup di Mekah adalah Nabi Saw bersama kaum muslimin pernah mengalami  kelaparan yang sangat menyiksa karena diboikot oleh kaum kafir. Nabi Saw sampai mengikat perutnya dengan batu di masa sulitnya mendapatkan makanan. Sedangkan di Madinah, kehidupan Nabi Saw bersama kaum muslimin  jauh lebih baik dibandingkan ketika hidup di Mekah. Bahkan kehidupan ekonomi kaum muslimin ketika di Madinah bisa mengungguli kaum Yahudi.

Saat ini, hijrah seperti yang dilakukan Nabi Muhammad Saw tidak ada lagi. Namun kebanyakan kaum muslimin melakukan hijrah dalam bentuk semangat dan kesadaran untuk pindah kepada kehidupan yang lebih baik dan diridai Allah Swt. Dalam surat Al-Muzzammil ayat 10 Allah Swt berfirman yang artinya, “Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara (hijrah) yang baik”.

Semangat dan kesadaran untuk hijrah saat ini semakin disadari oleh umat Islam. Berbagai komunitas, majelis taklim, lembaga pendidikan, dibentuk dari semangat berhijrah. Saat ini semakin banyak orang menyadari bahwa lingkungan yang buruk harus ditinggalkan menuju lingkungan yang baik. Perilaku buruk haruslah diubah agar hidup bisa menjadi lebih baik.

Di saat pandemi pun, semangat berhijrah seharusnya bisa muncul. Yaitu hijrah dari kebiasaan lama kepada kebiasaan baru. Hijrah dari kehidupan normal kepada kehidupan normal baru (new normal). Di saat pandemi, tidak mungkin kita hidup seperti di masa normal.

Di masa pandemi dan belum ada obat atau vaksinnya, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus hijrah kepada adaptasi kebiasaan baru. Kita harus memakai masker ketika di luar rumah, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, menjaga kesehatan dan kebersihan, yang merupakan kebiasaan baru. Karena dengan kebiasaan baru kita bisa tetap hidup, aktif mencari nafkah, aktif menuntut ilmu, dan lainnya.

Sudah semakin banyak orang yang positif covid akibat tidak melaksanakan kebiasaan baru di masa pandemi. Salah satu hal yang sering diremehkan adalah tidak memakai masker. Oleh karena itu, kita perlu semangat baru untuk hijrah kepada kebiasaan baru ini. Mari kita kuatkan semangat agar kehidupan kita tetap bisa lebih baik dengan melakukan kebiasaan baru. Jangan pernah malu atau rendah diri jika harus memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak. Karena itu semua untuk kepentingan diri kita sendiri.

Hijrah kepada kebiasaan baru bukanlah sesuatu yang buruk. Karena akan ada hikmah yang bisa diambil. Jika sebelumnya jarang cuci tangan, maka rajin mencuci tangan menjadi kebiasaan baru. Demikian pula halnya, dulu tidak menjaga kesehatan dan kebersihan, di kebiasaan baru selalu menjaga kesehatan dan kebersihan.

Memakai masker dulu tidak pernah terpikir. Sekarang memakai masker merupakan kebiasaan baru yang mungkin saja akan menjadi budaya setelah pandemi berakhir. Demikian pula dengan menjaga jarak dan menjauhi kerumunan.

Mematuhi protokol kesehatan sebagai bentuk kebiasaan baru merupakan upaya umat Islam saat ini untuk hijrah dari kebiasaan lama kepada kebiasaan baru yang lebih menyehatkan. Karena dengan hijrah kepada kebiasaan barulah kehidupan akan menjadi lebih baik, meskipun wabah virus sedang menyerang.

Namun jika ada yang menganggap tidak perlu hijrah ke kebiasaan baru seperti kehidupan lama yang tidak memakai masker, tidak mencuci tangan, tidak menjaga jarak, tidak menjaga kesehatan, maka itu artinya menyerahkan diri untuk disiksa oleh virus. Perlu juga dilihat, semakin banyak orang yang tadinya tidak memakai masker kemudian positif covid, lalu tersadar. Dan setelah sembuh menasihati orang-orang yang ditemuinya agar memakai masker, mencuci tangan, mematuhi protokol kesehatan.

Semoga dengan meneladani perjuangan hijrah Nabi Muhammad Saw dan memasuki Tahun Baru 1442 Hijriah bisa membuka hati dan pikiran kita dan menjadi motivasi untuk hijrah ke kebiasaan baru yang harus mematuhi protokol kesehatan. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Harian Singgalang 26 Agustus 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>