«

»

Taman Budaya Disulap Jadi Culture Center

11 November 2014

Taman Budaya Sumatera Barat akan disulap menjadi culture center dengan melakukan perombakan bangunan, layout dan berbagai dimensi lainnya. Untuk itu diperlukan biaya Rp2 triliun.
Pembangunan proyek itu akan berjalan beberapa tahun ke depan. Di Pantai Padang, persis di depan Taman Budaya, akan didirikan bangunan megah, mirip-mirip di New Zealand. Bangunan itu dirancang sedemikian rupa, dengan jembatan menuju Taman Budaya. Sebagian lokasi Taman Budaya akan dijadikan areal parkir. Bangunan tersebut juga akan merangkul Museum Adityawarman.
“Dimulai tahun depan, semua ditata untuk seni pertunjukan, pameran berbagai karya seni, pementasan, sejarah, kebudayaan, sastra dan berbagai aspek budaya lainnya,” kata Gubernur Irwan Prayitno ketika menerima sejumlah pemerhati budaya di gubernuran, Senin (10/11).

Kebudayaan
Gubernur Irwan, kemarin menerima sejumlah pemerihati budaya atau budayawan. Mereka adalah Darman Moenir, Edy Utama, Ery Mefri, Ibrahim Ilyas, Khairul Jasmi dan Rizal Tanjung.
Edy Utama menyebutkan, ada dua sisi pandang budaya yang mesti diperhatikan serius, pertama kebudayaan untuk orang lain, yang lebih pada seni kreatif dan pertunjukan, kedua budaya untuk karakter bangsa. Karena itu, kata dia, Taman Budaya harus ditimbang benar harus berada di mana.
Gubernur sampai pada kesimpulan, Taman Budaya harus masuk ke Dinas Pendidikan, karena budaya memiliki beban yang luhur. “Masuk ke pendidikan,” kata Irwan.
Di seluruh Indonesia Taman Budaya memang masuk ke rumpun pendidikan, bukan pariwisata. Bahkan ada yang jadi SKPD sendiri atau badan.
Para budayawan ini mendatangi gubernur karena di pusat terjadi perubahan nomenklatur, mereka memberikan sejumlah masukan dan sekaligus menerima masukan dari gubernur.
Irwan sepakat, persoalan kebudayaan memang harus mendapat perhatian khusus dan serius.
Riwayat
Selaku unit teknis di bidang kebudayaan, Taman Budaya juga berfungsi antara lain melaksanakan pengolahan seni sebagai unsur budaya di provinsi dan melaksanakan kegiatan pengolahan dan eksperimen karya seni, serta tugas – tugas lainnya.
Taman Budaya berdiri di lahan seluas lebih kurang 2 Ha. Awalnya dimanfaatkan sebagai sarana olahraga, khususnya bola kaki yang dikenal dengan Lapangan Diponegoro.
Pada 1972 Pemerintah Padang memanfaatkan area tersebut sebagai lokasi Padang Fair yang dirancang sebagai ajang promosi dagang dan industri tahunan dimanfaatkan pula untuk menampilkan berbagai macam atraksi kesenian, baik modern maupun tradisi. Tumbuhnya tempat itu menjadi fasilitas kesenian sangat menggembirakan. Beberapa seniman dan budayawan Sumatera Barat meminta agar dijadikan Pusat Kesenian Padang. Upaya tersebut didukung para seniman Juga para seniman muda yang mulai mempergunakan are tersebut untuk proses berkesenian. Tahun 1975 Pemerintah Padang sepakat untuk untuk mendirikan Pusat Kesenian Padang (PKP) di areal dan bangunan yang sebelumnya digunakan untuk Padang Fair. Lembaga ini diketua Mursal Esten guru besar IKIP Padang.
Hadirnya Taman Budaya berawal dari strategi pembangunan kebudayaan nasional yang diarahkan kepada pembinaan dan pengembangan kesenian sebagai ungkapan budaya bangsa. Taman Budaya diusahakan agar mampu menampung, menumbuhkan daya cipta para seniman, memperkuat jati diri bangsa, meningkatnya apresiasi dan kreativitas seni masyarakat. Kemudian meperluas kesempatan masyarakat untuk menikmati seni budaya bangsa serta memberi inspirasi dan gairah dalam membangun.Kesenian perlu digali, dibina, dikembangkan dan dilestarikan untuk memperkaya keanekaragaman budaya bangsa.
Untuk mencapai sasaran ini tulis sumbarprov.go.id diperlukan suatu lembaga yang mengurus kesenian, seniman dan penikmat seni. Lahirlah Taman Budaya di provinsi-provinsi di Indonesia dengan dasar pendirian antara lain: Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor : 0276/0/1978 tanggal 1 April 1978 tentang Tugas dan Fungsi Taman Budaya dan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 0221/0 /1991 tanggal 23 April tentang penyempurnaan struktur organisasi kantor/satuan kerja.
Pada waktu pembentukannya Taman Buaya Sumatera Barat (lebih dikenal dengan nama Taman Budaya Padang), sebagaimana halnya Taman Budaya lainnya di Indonesia, menajdi Unit Pelaksana Teknis Kebudayaan, di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia. Taman Budaya Sumatera Barat mengemban tugas utama untuk melaksanakan pengembangan kebudayaan daerah di provinsi.
Sejalan dengan bergulirnya otonomi daerah, pengelolaan Taman Budaya diserahkan kepada provinsi masing-masing. Dari posisinya unit pelaksana teknis pusat berubah menajdi unit Pelaksana Teknis Daerah. Taman Budaya Sumatera Barat merupakan salah satu unit pelaksana teknis daerah ( UPTD ) dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, sebentar lagi pulang ke rumahnya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Saat ini tetap eksis dan telah mendorong terciptanya iklim berkesenian yang kondusif. Berlangsungnya hal ini tercipta tidak terlepas dai dukungan dari berbagai pihak, Juga ditunjang oleh prasarana yang memadai seperti gedung pertunjukan dan galeri seni rupa yang representatif.(003)

Singgalang 11 Novemer 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>