«

»

IP dan NAMANYA: Menjadi Datuk itu Menjadi Penyabar

21 Agustus 2015

PADANG – Dalam banyak kesempatan apabila orang baru bekernalan dengannya maka orang akan bertanya: “Bapak orang Jawa?” Maka dengan senyum ia menjelaskan bahwa dirinya tulen urang awak. Nama Prayitno di belakang nama Irwan memang memancing tanya seperti itu.

Ketika ayahnya Drs H. Djamrul Djamal SH mengambil program tugas belajar sebagai pengajar ke PTAIN di Yogyakarta, ia memboyong serta istrinya Dra Hj. Sudarni Sayuti. Di Yogyakarta, Sudarni hamil dan melahirkan, “Nuansa Jawa di Yogya agaknya membuat ayah saya memilih nama itu,” kata Irwan.

Tapi tak ayal ia harus menjawab banyak pertanyaan orang setelah itu tentang nama bernuansa njawa itu. Soalnya adik-adiknya tak ada yang menggunakan huruf ‘O’ untuk nama mereka. Dan ia pun tak ambil peduli benar ketika banyak teman-teman kuliahnya dulu memanggilnya ‘Mas Irwan’.

Pun, ketika ia harus berkampanye untuk Partai PKS ketika Pemilu saat ia tampil sebagai Caleg DPR RI dari Sumbar, ia acap ditanya soal nama itu oleh konstituennya. Dan iapun menjelaskan dengan enjoy perihal nama itu. Walhasil, ia tetap dikenal sebagai urang awak  tulen oleh para konstituennya. Begitu juga ketika maju sebagai Cagub lima tahun silam, iapun dimenangkan oleh pemilihnya.

“Hanya saja sedikit yang agak susah saya ubah lantaran itu kebiasaan saat kecil di lingkungan Jawa. Aksentuasi saya masih terasa njawa, namun lagi-lagi itu tidak membuat saya kesulitan untuk berkomunikasi. Biasa saja,” katanya.

Seniman Alwi Karmena yang pernah membuat film pendek berjudul Tammanih mencoba membuktikan bahwa aksentuasi Irwan bisa menjadi tidak asing bagi lafaz-lafaz Minang. “Saya tawarkan Datuk menjadi pemain utama, eh beliau mau. Saya ragu-ragu soal aksentuasi itu. Ternyata dengan berlatih sebentar saja, dialog-dialog yang sarat bahasa Minang itu bisa dilafazkan dengan tidak buruk oleh Datuk,” kata Alwi yang menyutradarai sendiri film pendeknya itu. Yang dimaksud dengan Datuk oleh Alwi adalah Datuk Rajo Bandaro Basa, gelar pusaka yang disandang Irwan Prayitno ini sebagai penghulu kaum suku Tanjung, Pauh IX, Taratak Paneh Nagari Kuranji Padang.

Nah, itu lagi soal gelar Datuk. Sejak dikukuhkan sebagai penghulu dalam kaumnya pada Maret 2005 ia serta merta harus lebih menjaga lagi pribadinya. Menyandang gelar Datuk tentu segala konsekwensinya. “Saya was-was juga harus bersikap seperti apa karena saya belum belajar ketika itu. Tapi mamak-mamak saya para tetua adat di Pauh IX banyak mengajarkan saya ihwal adat. Saya sempat juga mendapat nasehat dari ketua LKAAM Sumbar almarhum pak Datuk Simulie (HKR DT.P. Simulie-red) dan pak Ikasuma Hamid Dt. Gadang Batuah,” kata Irwan. Datuk Simulie adalah Ketua LKAAM yang menyampaikan pidato saat pengukuhan Irwan jadi Datuk yang dihadiri oleh Jusuf Kalla (ketika itu Wapres). Sedangkan Ikasuma Hamid Datuk Gadang Batuah adalah mantan Bupati Tanah Datar yang berpasangannya dengan Irwan ketika itu menjadi Cagub/Cawagub 2005.

Dari semula Irwan menyadari bahwa menjadi Datuk pasti bukan sebuah jabatan untuk gagah-gagahan. Ia menyadari bahwa menjadi penghulu kaum itu memiliki tanggung jawab yang besar. “Tak mungkin jadi Datuk hanya untuk pajangan saja, mesti benar-benar membimbing kemenakan. Selama lima tahun ini paling tidak seminggu sekali saya bersua-sua dengan kemenakan. Ada saja yang dikeluhkan, dari masalah ekonomi sampai masalah perselisihan dalam kaum. Saya akhirnya menyadari betapa luhurnya adat Minang itu. Sebab sebagai ninik mamak kita benar-benar dituntut untuk senantiasa sabar menghadapi berbagai masalah yang disampaikan oleh anak kemenakan kepada kita,” kata Irwan.

Akhlak, yang menjadi basis filosofi adat itu sangat sejalan dengan apa yang dituntunkan oleh syara’. “Beradat, berarti berakhlak. Jadi sangat aneh kalau seorang penghulu berkata kasar, mahariak mahantam tanah apalagi berkata kotor,” ujar Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa. Hari-hari lepas dari jabatannya sebagai gubernur dan legislatif di DPR, hampir tiap hari ia dapat bersua dengan anak kemenakannya kaum persukuan Tanjung.(**)

Metro Andalas, 21 Agustus 2015