«

»

Irwan Prayitno dan Gempa 30 September 2009

30 September 2015

ENAM tahun lalu, Ranah Minang berduka. Air mata membasahi pipi, pekikan Allahu Akbar terdengar histeris, orang-orang berlari kian kemari tak tentu arah. Sebagian besar warga Kota Padang yang tinggal di tepi pantai, mengungsi ke arah Pauh, Kuranji dan dataran tinggi lainnya di Kota Padang.

Penulis masih ingat, pada hari itu, beberapa orang warga dari Lubuk Buaya Koto Tangah mengungsi ke rumah orang tua penulis di Surau Cangkeh Tampat Durian, Kelurahan Koronggadang Kecamatan Kuranji, pada malam harinya. Mereka terdiri dari satu rumpun keluarga. Untuk sampai ke rumah orang tua penulis, mereka mengendarai satu unit truk. Tak hanya mereka yang mengungsi, tetapi bersama mereka juga dibawa mayat salah seorang keluarganya yang wafat siang harinya. Besok paginya, baru diurus proses pemakaman si mayat tersebut.

 

“Apa saja ni′mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An Nisa:79).  ”Katakanlah: “Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya.” (QS. Al An’aam: 64).
Gempa bumi dahsyat pada tanggal 30 September 2009 tidak akan pernah terlupakan bagi masyarakat Sumatera Barat, terutama korban gempa. Gempa bumi dengan kekuatan 7,6 Skala Richter di lepas pantai Sumatera Barat pada pukul 17:16:10 WIB tersebut terjadi di lepas pantai Sumatera, sekitar 50 km barat laut Kota Padang.

Gempa menyebabkan kerusakan parah di beberapa wilayah di Sumatera Barat seperti Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Padangpanjang, Kabupaten Agam, Kota Solok, dan Kabupaten Pasaman Barat. Menurut data Satkorlak PB, sebanyak 1.117 orang tewas akibat gempa ini yang tersebar di 3 kota dan 4 kabupaten di Sumatera Barat, korban luka berat mencapai 1.214 orang, luka ringan 1.688 orang, korban hilang 1 orang. Sedangkan 135.448 rumah rusak berat, 65.380 rumah rusak sedang, dan 78.604 rumah rusak ringan.

Irwan Prayitno Datuk Rajo Basa dilantik menjadi Gubernur pada tanggal 15 Agustus 2010, menggantikan Marlis Rahman. Menjadi Gubernur Sumatera Barat pascagemba 30 September 2009, membuat Irwan harus menguras otak untuk membenahi Ranah Minang yang luluh lantak tersebut. Jika mengandalkan APBD yang pada saat itu hanya sebesar Rp1,6 triliun, tentulah tidak mungkin. Tentulah dibutuhkan langkah strategis dan program prioritas dalam rangka mengembalikan Ranah Minang seperti sedia kala.

 

Langkah pertama yang dilakukan Irwan adalah melakukan rehab rumah warga yang rusak berat, rusak sedang dan rusak ringan. Sekitar 279.432 rumah warga harus segara direhab. Seiring dengan itu, sarana prasarana publik pun harus juga direhab, seperti jalan dan jembatan, rumah sakit, pasar, sarana ibadah dan sarana publik penting lainnya. Bagi Irwan, rumah warga dan sarana publik yang rusak terkena gempa harus segara direhab. Dia tidak mengutamakan rehab kantor pemerintah dan kantor gubernur.
Rehab dan pembangunan kembali kantor pemerintah baru dilakukan setelah rumah warga dan sarana publik tadi selesai dikerjakan. Baru kemudian dilakukan retrofit dan pembangunan kembali Rumah Bagonjong yang merupakan kantor Gubernur Sumatera Barat. Irwan pun membatalkan rencana rehabilitasi rumah dinas gubernur dan wakil gubernur yang sudah terlanjur dianggarkan pada tahun 2010.

Pasca gempa hingga berakhirnya masa jabatan sebagai gubernur, Irwan masih berkantor di rumah. Setelah pembangunan escape building pada tahun 2014, Irwan juga tidak mau menempati ruangan yang disediakan untuknya. Hal ini dilakukannya, setelah melihat kondisi pegawai pemprov berdesak-desakan berkantor sementara di aula kantor gubernur, Irwan memutuskan tidak jadi menempati kantor yang baru tersebut, sebagai ganti ia menyuruh tiga SKPD menempati kantor baru tersebut, pindah dari aula. Irwan tetap berkantor sementara di rumah dinas. Meski rumah yang ia tempati saat ini sudah banyak yang bocor dan kropos dimakan rayap.

Ini semua dilakukan Irwan, semata-mata amanah jabatan yang dia sandang. Irwan paham betul, sebagai pemimpin dari partai Islam, ajaran agamanya mewajibkan mendahulukan penyelesaian warga korban gempa, ketimbang fasilitas kantor bagi dirinya dan pejabat Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Islam sebagai agama wahyu mengajarkan agar pemikul amanah melaksanakan amanah tersebut dengan baik. Jika tidak, maka azab Allah swt akan ditimpakan kepada penerima amanah tersebut. Jangankan masuk surga yang akan diharap, bau surga saja Tuhan enggan memberikan. Begitulah ketentuan Islam bagi pemimpin yang melalaikan amanahnya.

 

Belakangan, kebijakan Irwan tidak mendahulukan pembangunan kantor gubernur, dan lebih memilih di rumah dinas dalam komplek Istana Gubernur Sumbar, menuai kritikan tajam dari lawan-lawan politiknya. Apatah lagi dalam suasana Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur Sumatera Barat, isu tersebut dijadikan bahan black campaign (kampanye hitam) oleh lawan-lawan politiknya.
Para pengkritik Irwan lupa, kerja keras dan profesional Irwan bersama jajarannya serta segenap stake holders dalam penanganan gempa mendapat apresiasi dari Pemerintah Pusat yaitu mendapat empat penghargaan sekaligus: Terbaik I Nasional dalam Pelaksanaan Tanggap Darurat,Terbaik I Nasional dalam Pelaksanaan Rehab Rekon Pascabencana, Terbaik II Kategori Akuntabilitas Bidang Kebencanaan dan Terbaik III Bidang Mitigasi. Penghargaan ini diterima pada tahun 2011. Pada tahun 2013 diperoleh lagi penghargaan Rehab Rekon Tercepat. Sumbar berhasil menyelesaikan rehab rekon sebanyak 197.636 rumah masyarakat yang menelan dana sebesar Rp2,714 triliun dengan tepat waktu.

Bahkan, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Syamsul Maarif waktu itu mengatakan bahwa Sumatera Barat patut dijadikan contoh bagi daerah lain dalam pelaksanaan penanganan pascabencana.  Beliau juga mengatakan Pemerintah Pusat tidak ragu-ragu mengucurkan dana dalam jumlah besar ke Sumatera Barat, karena yakin dana tersebut pasti dimanfaatkan sebagaimana mestinya dan bisa dipertanggung jawabkan. Untuk diketahui, Pemerintah Pusat mengucurkan dana sebesar Rp 2,7 triliun lebih untuk rehab rekon Sumatera Barat.

 

“Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik (dan bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (QS. Al-A’raaf:168).  “Dan demi sesungguhnya! kalau Kami memberinya pula kesenangan sesudah bencana, tentulah ia akan berkata: “Telah hilang lenyaplah dariku segala bencana yang menimpaku”. Sesungguhnya ia (dengan kesenangannya itu) riang gembira, lagi bermegah-megah (kepada orang ramai).” (QS. Hud: 10). 

Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Salah Seorang Pimpinan Bara Online Media (BOM) Group

 

Bentengsumbar.com, 30 September 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>