«

»

Politik Uang

30 Desember 2015

Oleh: Irwan Prayitno

Politik uang (money politic) ternyata juga terjadi pada pilkada 2015. Setidaknya di wilayah Sumatera Barat. Ini bisa dilihat dari informasi yang beredar, baik di masyarakat, media maupun di kalangan pengamat politik yang kerap mengkritisi jalannya pilkada. Masih ada yang mencoba melakukannya dan kemudian diketahui masyarakat. Lalu masyarakat sendiri yang melaporkan bahwa mereka telah mendapat suatu pemberian dengan ajakan memilih pasangan calon tertentu.

Sebagian dari mereka merasa risih dengan pemberian tersebut, karena ternyata mereka sudah memiliki pilihan sendiri dan masih sulit mengubah pilihan hanya karena faktor pemberian sesuatu. Sehingga kerisauan mereka ini diceritakan kepada pihak lain. Masyarakat ternyata memiliki hati nurani dalam menentukan pilihannya. Semakin mendapat iming-iming maka mereka akan semakin bertanya-tanya, dan merasa terkungkung. Padahal sehari-hari mereka terbiasa merdeka untuk melakukan aktivitas, termasuk menentukan siapa yang akan jadi pilihannya di pilkada.

Dalam pilkada 2015 ini, sudah ada aturan yang menyebutkan tentang barang-barang yang bisa disiapkan oleh pasangan calon untuk diberikan kepada masyarakat. Misalnya mug (gelas), payung, pulpen, kaos, dan kalender yang memuat logo atau foto pasangan calon. Jika barang yang dibagi kepada masyarakat di luar ketentuan yang diatur, seperti magic jar dan beras, apalagi uang disertai ajakan untuk memilih calon tertentu maka sudah jelas melanggar aturan.

Di beberapa tempat pemungutan suara (TPS) di mana daerah tersebut terjadi pembagian barang tertentu pun ternyata hasil penghitungan tidak menunjukkan hubungan positif antara pemberian barang dan pemilihan calon tertentu. Barang yang dibagikan diterima, tapi tidak menjamin untuk memilih sesuai permintaan pemberi barang. Dan juga tidak terjadi kemenangan di daerah tersebut bagi pelaku money politic.

Selain itu, memang ada juga yang berhasil dipengaruhi oleh politik uang ini. Namun karakter pemilih yang demikian bukan mencerminkan realita mayoritas. Mereka ini adalah orang yang kehidupannya sangat sederhana. Ketika menerima bantuan maka akan melakukan balas jasa. Pendidikannya pun masih tergolong rendah, tamatan SD dan SMP. Dan kurang terbuka dalam menerima informasi. Sehingga menyebabkan mudah dipengaruhi. Namun kelompok ini sangat kecil dan tidak signifikan.

Mereka kebanyakan tinggal di daerah pinggiran, jauh dari pusat kota, bahkan ada yang terpencil. Pergaulan dengan masyarakat maupun dunia luar masih tertutup, ditambah dengan tingkat pendidikan yang rendah dan kondisi ekonomi yang kurang baik.

Politik uang bisa dijelaskan seperti dalam UU No. 3 Tahun 1999 pasal 73 ayat 3, “Barang siapa pada waktu diselenggarakannya pemilihan umum menurut undang-undang ini dengan pemberian atau janji menyuap seseorang, baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu, dipidana dengan pidana hukuman penjara paling lama tiga tahun. Pidana itu juga dikenakan juga kepada pemilih yang menerima suap berupa pemberian atau janji berbuat sesuatu.”

Hasil penelitian lembaga survei memang menunjukkan bahwa masyarakat di Sumbar tidak bisa dipengaruhi dengan politik uang. Jika pun ada yang menerima, maka penerimaan tidak berhubungan langsung dengan pilihan kepada calon tertentu.  Secara umum masyarakat masih memiliki hati nurani ketika memilih calon kepada daerah. Iming-iming pemberian berupa barang atau uang justru memunculkan penolakan oleh masyarakat. Sebagian masyarakat telah memiliki pilihan sebelum hari-H pemilihan, sehingga pemberian uang atau barang tidak berpengaruh.

Penolakan politik uang oleh masyarakat ini patut dicermati oleh setiap orang yang ingin berlaga pada pemilu maupun pilkada di Sumbar. Masyarakat lebih menginginkan kompetisi yang sehat di antara pasangan calon dan mendapatkan kepuasan yang lebih baik dengan memilih calonnya. Politik uang hanya menjadi belenggu yang mengikat masyarakat, padahal sehari-hari masyarakat terbiasa bebas untuk menentukan pilihannya dalam berbagai hal. ***

Padang Ekspres, 30 Desember 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>