«

»

Petaka di Balik Aktivitas Tambang, Mengapa Terus Berulang?

24 November 2017

Dua hari pascabencana banjir dan longsor di Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Limapuluh Kota, dalam rapat koordinasi tanggap darurat, awal Maret lalu, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menduga penyebab  utama bencana adalah aktivitas tambang galian C di daerah itu.

Menurutnya, dari pantauan di lapangan, lokasi penambangan dinilai sangat dekat dengan daerah terjadinya longsor. Melalui pantauan udara bahkan juga terlihat hamparan hutan yang gundul akibat aktivitas tambang.

“Tepat di atas lokasi longsor terdapat aktivitas penambangan galian C. Jika tambang itu ilegal, kami akan bawa  kepada penegak hukum. Kalau legal kami akan cabut izinnya,” demikian kata Irwan.

Dia berjanji akan bersikap tegas untuk menindak aktivitas penambangan yang menyebabkan bencana di daerahnya. Bencana banjir dan longsor di Pangkalan pada Maret 2017 ini disebut paling parah dalam 10 tahun terakhir.

Bencana kali ini menyebabkan sedikitnya delapan orang tewas dan tiga lainnya mengalami luka. Longsor  disertai banjir itu juga berdampak pada 3.397 kepala keluarga  (KK), serta menyebabkan putusnya akses jalan Padang—Pekanbaru.

Tidak hanya itu, dampak banjir juga menyebabkan rusaknya berbagai infrastruktur publik, serta merusak lahan pertanian dan ternak warga. Kerugian materiil mencapai sekitar Rp252 miliar.

“Banjir juga merendam ribuan hektare areal pertanian yang menjadi sumber utama perekonomian penduduk,” kata Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi.

Longsor di kawasan Pangkalan setidaknya terjadi hingga tiga kali dalam setahun. Pemda setempat bahkan mencatat dalam 10 tahun terakhir sudah terjadi 29 kali bencana yang menyebabkan kerugian besar.

Tidak hanya di Pangkalan, bencana longsor hampir selalu terjadi di setiap sudut daerah itu, terutama yang dekat dengan kawasan pertambangan. Di Solok Selatan misalnya, banjir besar dan longsor juga melanda  daerah itu pada Kamis, 14 September 2017. Ratusan rumah masyarakat dan lahan pertanian turut menjadi korban bencana itu.

Begitu juga dengan daerah lainnya, seperti Padang Pariaman, Pasaman, Agam, dan Pasaman Barat kerap kali dilanda persoalan longsor dan banjir bandang. Pada umumnya, daerah-daerah tersebut memiliki areal  pertambangan yang luas. Solok Selatan misalnya, dipenuhi perusahaan tambang emas serta tambang liar di sepanjang aliran Sungai Batang Hari.

Syafruddin Karimi, Ekonom Universitas Andalas, mengingatkan bahwa kekayaan sumber daya alam yang tidak dikelola dengan baik hanya akan membawa petaka kepada masyarakatnya.

“Tidak ada jaminan daerah yang kaya SDA rakyatnya sejahtera. Solok Selatan bisa jadi contoh karena banyak perusahaan tambang di sana. Namun, masyarakatnya tidak menikmati bahkan Solok Selatan masih masuk kategori daerah tertinggal,” katanya.

Dia meminta Pemerintah Provinsi Sumbar tegas mengevaluasi seluruh perusahaan tambang yang ada di  daerah itu sehingga pengelolaan tambang menjadi lebih terkendali dan ramah lingkungan serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

 

Bisnis Indonesia, 24 November 2017

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>