«

»

Mengantisipasi Banjir

11 Desember 2017

Beberapa minggu terakhir ini hujan lebat dengan intensitas tinggi dan cukup lama terjadi di berbagai tempat di Sumbar. Ini terjadi baik pagi, siang maupun malam. Akibat hal ini juga menyebabkan kondisi yang kurang baik bagi pesawat untuk mendarat dan lepas landas di Bandara Internasional Minangkabau (BIM).

Hujan lebat yang terus-menerus berpotensi menimbulkan banjir dan longsor. Jika kita melihat sejenak ke belakang, pada Maret 2017 bencana banjir dan longsor melanda Kab. 50 Kota. Sedikitnya 8 kecamatan dan 13 nagari mengalami dampak langsung banjir dan longsor ini. Pada Mei 2017 banjir dan longsor terjadi di Kota Padang. Sedikitnya ada 18 titik banjir di 9 kecamatan yang terdeteksi. Kemudian pada September 2017 banjir dan longsor terjadi di Kab. Pesisir Selatan. Pada November 2017 banjir dan longsor juga kembali terjadi di Kab. Pesisir Selatan. Hampir di seluruh wilayah Sumbar terjadi banjir dan longsor.

BMKG (Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika) secara rutin mempublikasikan prakiraan cuaca di Sumbar untuk dijadikan sebagai pedoman dan antisipasi berbagai kegiatan masyarakat dan juga pemerintah.  Kondisi cuaca ekstrem seperti hujan lebat yang tak henti adalah peristiwa yang rutin terjadi di Sumbar. Sumbar yang memiliki bentang pegunungan bukit barisan menjadikan daerah ini kerap turun hujan dengan intensitas tinggi.

Pemerintah Provinsi Sumbar senantiasa mengingatkan masyarakat agar selalu berjaga-jaga dalam menghadapi kondisi hujan yang terus-menerus turun dengan waktu cukup lama. Karena dari hujan lebat yang terus-menerus kemungkinan akan menimbulkan bencana, seperti banjir dan longsor maupun banjir bandang (galodo).

Seharusnya bencana yang seperti ini bisa diantisipasi. Karena peristiwanya sering berulang dan yang terjadi selalu banjir dan longsor. Pemerintah daerah secara terus-menerus berupaya untuk mencegah dan mengantisipasi berbagai bencana tersebut. Baik dalam bentuk surat edaran, informasi melalui media, tindakan pencegahan dan penanggulangan, perbaikan/pembangunan infrastruktur, dan juga bekerja sama dengan kelompok masyarakat maupun organisasi yang terkait langsung dengan antisipasi dan penanganan bencana.

Namun demikian, masyarakat pun perlu melakukan antisipasi menghadapi hal seperti ini. Misalnya tidak tinggal di sekitar sungai, terutama pinggir sungai. Jika sudah berkali-kali rumahnya terkena banjir maka harus direncanakan untuk mencari tempat tinggal yang jauh dari sungai. Atau kalau pun ternyata sangat sulit untuk pindah maka ketika hujan turun dengan lebat dan cukup lama harus segera bersiap-siap meninggalkan rumah menjauhi sungai.

Demikian pula masyarakat yang tinggal di daerah yang memiliki kemiringan tertentu atau di dekat daerah yang memiliki bukit dan lembah. Ketika hujan turun dengan lebatnya dan cukup lama maka harus melakukan antisipasi dengan menjauhi daerah tersebut. Hal yang paling ideal dan aman memang tidak lagi bertempat tinggal di daerah yang sudah jelas rawan akan bencana. Karena ini untuk kebaikan masyarakat yang bersangkutan.

Demikian pula dengan para petani, mereka harus mengatur lagi waktu beraktivitas mereka seperti menanam dan memanen. Perlu terus memantau informasi resmi dari BMKG terkait cuaca. Sehingga para petani bisa dihindarkan dari kerugian maupun musibah lainnya terkait cuaca ekstrem. Begitu pula nelayan, yang aktivitasnya membutuhkan cuaca yang bersahabat.

Sementara bagi pengguna jalan yang melalui wilayah Sumbar juga harus berhati-hati ketika melewati area yang berdekatan dengan sungai dan bukit di saat hujan lebat turun dan cukup lama. Bila perlu berhenti atau menunda perjalanan agar selamat. Karena bahaya longsor bisa terjadi tanpa diduga, dan tak hanya menimbun jalan juga bisa menimbun kendaraan.

Dengan melihat hal ini maka memang perlu dilakukan antisipasi yang baik, dan insya Allah antisipasi terhadap banjir dan longsor bisa menyelamatkan nyawa manusia. Berbeda dengan antisipasi bencana yang sangat mendadak datangnya seperti gempa bumi yang bisa memakan korban manusia dalam waktu sekejap.

Masyarakat yang tinggal atau bermata pencaharian di zona merah bencana harus sangat siap menghadapi cuaca ekstrem dan mengantisipasi terjadi bencana. Kejadian yang mungkin kerap berulang harus dijadikan bahan renungan dan pemikiran guna menyelamatkan diri.

Dalam Alquran surat 13 ayat 11 Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Maka sudah menjadi kewajiban kita sebagai manusia jika ingin mengubah keadaan yang ada pada diri kita yaitu terhindar dari bencana maka kitalah yang harus melaksanakan aksinya. Maka hujan yang turun terus-menerus yang berpotensi menimbulkan bencana harus kita hadapi dengan melakukan antisipasi. Kemauan dan kesadaran adalah kuncinya.

Hujan sesungguhnya adalah rahmat Allah SWT. Namun manusia diberi akal untuk mengantisipasi terjadinya bencana ketika hujan lebat turun dan cukup lama. Semoga kita bisa mensyukuri turunnya hujan sebagai rahmat Allah SWT sekaligus bisa mengantisipasi terjadinya hujan lebat yang cukup lama. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Padang Ekspres, 11 Desember 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>