«

»

Mencari Investor

5 April 2018

Setiap kepala daerah dalam visi misinya tercantum upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Meskipun redaksi bahasa yang digunakan berbeda-beda. Dan untuk meningkatkan kesejahteraan, instrumen yang ada adalah APBN dan APBD. Namun secara umum dana APBN dan APBD tidaklah cukup untuk secara maksimal meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sebagai ilustrasi sederhana, untuk investasi infrastuktur pemerintah selama 2015-2019 secara presentase hanya bisa dipenuhi oleh APBN-APBD sebesar 41,3 persen, kemudian BUMN 22,2 persen, dan sisanya peran swasta sebesar 36,5 persen. Dari ilustrasi ini bisa dilihat bahwa pemerintah memerlukan pihak swasta untuk berinvestasi di bidang infrastruktur. Karena mengharapkan anggaran dari ABPN-APBD dan BUMN ternyata tidak cukup.

Gambaran di atas juga mewakili kondisi ekonomi di daerah. Meskipun sudah ada APBN dan APBD, serta kehadiran BUMN di daerah, tapi belum secara maksimal mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Apalagi dalam APBN-APBD sudah ada judul masing-masing dari setiap mata anggaran, sehingga sulit untuk mengutak-atik anggaran yang sudah ada. Oleh karena itu pemerintah daerah bisa meningkatkan peran swasta dengan mengajak mereka berinvestasi di daerah.

Untuk menjadikan pihak swasta berpartisipasi aktif adalah dengan mengundang mereka dan memudahkan segala urusan usahanya. Untuk itu dilakukan upaya jemput bola karena pemerintah tidak bisa berdiam diri saja. Jika APBN-APBD dan BUMN sudah bisa didapatkan dananya melalui mekanisme rutin, maka tidak demikian dengan swasta. Dibutuhkan usaha sungguh sungguh dan pengorbanan untuk mengajak swasta berinvestasi.

Masuknya investasi ke sebuah daerah, akan membantu peran APBN-APBD. Karena investasi yang masuk akan membuka peluang penyerapan tenaga kerja, dan pendapatan untuk daerah serta terjadi efek multiplier. Dan uang pun akan beredar di daerah, sehingga mendorong ekonomi semakin bergerak.

Investasi di bidang pariwisata, di antaranya adalah dengan pembangunan hotel-hotel baru. Bertambahnya hotel akan menambah penyerapan tenaga kerja, bertambahnya pendapatan untuk daerah, wisatawan semakin banyak datang karena bertambahnya jumlah kamar hotel. Dan efek multiplier yang lain di antaranya adalah terhadap bisnis kuliner, cendra mata, transportasi, ekonomi kreatif, dan UMKM. Meningkatkan efek multiplier yang lebih luas seperti ini bisa didapat dari peran swasta. Alhamdulillah beberapa investor asal Ranah Minang sudah ada yang membangun hotel, seperti di Batusangkar dan di Padang.

Sementara investasi di bidang energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga mikro dan mini hidro akan berkontribusi kepada pendapatan asli daerah, sedangkan untuk panas bumi pemasukan bagi daerah berupa dana royalti.

Untuk mendapatkan investor, bisa berasal dari dalam dan luar negeri. Dan untuk mengawali kerja sama bisa dimulai dengan menandatangani letter of intent (LoI), memorandum of understanding (MoU), serta komunikasi yang intensif. Untuk itu, maka mau tidak mau, kitalah yang harus menjemput investor agar mau menanamkan uangnya di daerah kita.

Peluang partisipasi swasta yang sekitar 35 persen memang membutuhkan kerja keras. Pemprov tidak bisa berdiam diri saja mengharapkan datangnya investor ke Sumbar. Seperti ayat Alquran yang menyatakan bahwa Allah Swt tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak berusaha mengubahnya, maka untuk mendatangkan investor menanamkan uangnya guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pemda harus berusaha semaksimal mungkin.

Peran APBN dan APBD dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat tidak dipungkiri turut berperan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Demikian pula peran BUMN. Namun baik APBN, ABPD dan BUMN sudah memiliki peran dan anggarannya tersendiri. Sedangkan mendatangkan investor tergantung seberapa gigih usaha dari pemda. Maka saya melihat bahwa hal ini harus sangat diseriuskan.

Saya melihat bahwa mencari investor untuk menanamkan uangnya di Sumbar maka berarti juga upaya untuk meningkatkan kesejahteraan. Bila jumlah uang masuk dan beredar di Sumbar makin banyak maka bisa menggerakkan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Jika partisipasi swasta bisa semakin maksimal dalam perekonomian maka insya Allah kesejahteraan masyarakat pun bisa semakin baik, karena sumber penggerak ekonomi bertambah besar. Alhamdulillah, berdasarkan data BPS (Sumbar dalam Angka 2017), tingkat pengangguran terbuka semakin berkurang, jumlah penduduk miskin juga berkurang. Rata-rata pengeluaran perkapita sebulan untuk makanan dan non makanan  menunjukkan kenaikan. Dan PDRB per kapita pada tahun 2016 sudah berada di angka 37,21 juta rupiah. Di mana pada tahun 2010 nilainya sekitar 17 juta rupiah.

Sementara jumlah perusahaan dengan status PMDN dan PMA menunjukkan pertambahan, dan jumlah pembangkit listrik tenaga mikrohidro dan mini hidro juga menunjukkan  pertambahan. Sedangkan jumlah penerbitan tanda daftar perusahaan (TDP) dan surat izin usaha perusahaan (SIUP) menunjukkan kenaikan. Demikian pula jumlah tamu hotel dan juga jumlah restoran/rumah makan menunjukkan kenaikan. Penerbangan dalam negeri baik yang berangkat dari BIM maupun datang ke BIM juga menunjukkan kenaikan.

Man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berhasil. Kesungguhan butuh kerja keras, ketekunan, kesabaran, dan juga keikhlasan. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Padang Ekspres, April 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>