«

»

Inflasi dan Ramadhan

22 Mai 2018

Pada 15 Mei 2018 lalu, saya mengikuti High Level Meeting TPID dengan Kepala BI Perwakilan Sumbar, para Bupati dan Wali Kota, dan para Kepala OPD, yaitu rapat dalam menghadapi Ramadhan dan Idul Fitri agar inflasi bisa terkendali. Hadir juga dalam acara tersebut para pemangku kepentingan lainnya dan pihak-pihak terkait seperti Bulog, Garuda Indonesia, dan Pertamina.

Setiap tahun, khususnya Ramadhan dan Idul Fitri selalu terjadi kenaikan harga yang mendorong kenaikan inflasi. Khususnya harga-harga makanan. Sesuai hukum permintaan, kenaikan permintaan di mana persediaan barang relatif tetap menyebabkan terjadinya kenaikan harga. Untuk menyikapi hal tersebut kami melakukan pendekatan dari sisi persediaan atau suplai.

Kami melakukan pendataan persediaan pangan di kota dan kabupaten, juga melakukan pendataan persediaan BBM. Dari pendataan tersebut disimpulkan bahwa persediaan yang ada mencukupi, baik pangan dan kebutuhan pokok lainnya serta BBM. Maka dari sisi persediaan kami anggap aman. Jika nanti terjadi kenaikan harga, maka kami pun sudah menyiapkan langkah antisipasi seperti operasi pasar dan pasar murah.

Namun kami tak menutup mata bahwa setiap bulan Ramadhan terjadi lonjakan kenaikan permintaan dibanding bulan-bulan lainnya. Meskipun persediaan bisa diantisipasi, di lapangan harga tetap naik akibat kenaikan permintaan yang melonjak. Karena pada waktu ini banyak orang melakukan pembelian lebih banyak dibanding bulan-bulan sebelumnya. Maka untuk mengantisipasi hal ini semakin membesar, kami juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat melalui berbagai kanal agar tidak berbelanja berlebihan, tidak melakukan konsumsi dalam jumlah banyak dan  bersisa, dan tidak melakukan kemubaziran. Baik melalui OPD terkait, majelis taklim, para dai/penceramah, juga melalui media cetak, penyiaran, media sosial dan lainnya.

Hal semacam ini memang perlu diingatkan terus kepada masyarakat, bahwa kita berpuasa di bulan Ramadhan adalah untuk menahan dan mengendalikan diri, termasuk dalam konsumsi makanan dan juga berbelanja. Baik di waktu siang maupun malam. Makanan maupun minuman yang dikonsumsi berlebihan maupun yang terbuang pada waktu berbuka hingga sahur menjadikan puasa menjadi kehilangan maknanya yang hakiki.

Puasa yang mengajarkan kita untuk mengendalikan diri ternyata dimaknai justru sebaliknya, melemahnya kontrol diri dalam berbelanja dan berkonsumsi. Sehingga data statistik yang muncul hampir setiap tahun menunjukkan terjadinya pembelian yang lebih banyak. Selain melemahnya kontrol diri dalam berbelanja, kenaikan harga yang mendorong inflasi juga menyebabkan golongan masyarakat yang kurang mampu mengalami kesulitan dalam berbelanja kebutuhan hariannya. Maka puasa yang tadinya mengajak umat untuk berempati merasakan kesulitan kaum dhuafa justru menjadikan kaum dhuafa mengalami kesulitan dalam berbelanja kebutuhan hariannya akibat kenaikan harga.

Oleh karena itu, melalui tulisan ini saya mengajak diri saya sendiri dan juga para pembaca, serta seluruh masyarakat, marilah kita jadikan puasa di bulan Ramadhan sebagai ajang untuk mengendalikan diri dalam berbelanja, berkonsumsi, sehingga puasa kita bisa lebih baik kualitasnya. Baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain atau masyarakat. Dengan mengendalikan diri dalam berbelanja dan berkonsumsi, tidak terjadi permintaan yang melonjak sehingga harga pun cenderung stabil dan tidak naik, sehingga hal ini membantu mereka yang kurang beruntung untuk bisa tetap memenuhi kebutuhannya serta membantu masyarakat lainnya yang juga sulit berbelanja jika harga naik. Selain itu, bagi masing-masing individu mengendalikan konsumsi akan menjadikan tubuh dan jiwa lebih sehat.

Jika kita bersama-sama berusaha mengendalikan keinginan berbelanja dan berkonsumsi sebagai bentuk pengendalian diri dan menahan hawa nafsu, insya Allah akan datang kebaikan kepada kita yang tidak kita sangka-sangka. Karena kalau bukan kita yang melakukannya, tak bisa kita harapkan dari pihak luar. Dan kebaikan bersama yang dilakukan insya Allah membawa lebih banyak dampak positif.

Hal ini seperti yang difirmankan Allah Swt dalam surat Ar-Ra’d ayat 11 yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. Semoga puasa kita di bulan Ramadhan tahun ini lebih memberikan makna kepada diri dan juga membawa kebaikan kepada masyarakat. Karena Islam adalah agama yang ajarannya penuh dengan ajakan untuk melakukan kebaikan yang berdampak positif bagi masyarakat.  ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang, 22 Mei 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>