«

»

Akad Nikah

15 Agustus 2018

Pada awal Juli 2018 lalu, saya menikahkan salah satu anak laki-laki saya, bertempat di Padang. Akad nikah berlangsung pada hari Jumat di Masjid Sahara. Alhamdulillah akad nikah berjalan lancar. Kepada panitia saya mintakan agar acara akad nikah sesuai dengan yang dicontohkan Nabi Saw atau mengikuti rukun nikah. Karena saya melihat, acara akad nikah seringkali ditambahi dengan hal-hal yang bukan merupakan bagian dari akad nikah yang sesuai ajaran Islam. Sehingga akan dianggap memberatkan atau mengurangi kesakralan pernikahan.

Padahal Nabi Saw bersabda untuk memudahkan pernikahan, “Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah” (HR. Abu Dawud). Adapun rukun nikah itu adalah, adanya mempelai pria dan wanita, ada wali dan dua orang saksi, dan ijab kabul yang diucapkan orangtua atau wali mempelai wanita dengan mempelai pria.

Selama menjabat gubernur,  saya juga banyak memenuhi undangan sebagai saksi nikah dan penasihat nikah. Hampir sekali seminggu ada jadwal untuk menjadi saksi nikah atau penasihat nikah. Bahkan kadang dua hingga tiga kali seminggu. Baik di Sumbar maupun luar Sumbar. Karena seringnya menjadi saksi nikah dan penasihat nikah, saya pun sering mengamati berbagai hal yang ada dalam acara pernikahan tersebut.

Dalam ajaran Islam, pernikahan itu cukup sederhana kegiatannya. Yaitu ijab kabul antara orangtua atau wali dari pihak mempelai wanita dengan mempelai pria, disahkan oleh saksi. Sementara penghulu hadir sebagai perwakilan negara yang akan mengadministrasikan pernikahan sesuai aturan yang berlaku. Dalam acara pernikahan, penghulu menyampaikan khotbah nikah, kemudian dilakukan ijab kabul, yaitu penyerahan mempelai wanita dari orangtua atau wali kepada mempelai pria. Hal ini sudah lazim diketahui masyarakat.

Namun di luar itu, ternyata ada lagi tambahan-tambahan kegiatan dalam acara pernikahan tersebut. Seperti kegiatan meminta maaf dari mempelai pria dan wanita kepada orangtua atau wali. Agar lebih syahdu, pembawa acara atau pihak EO (event organizer) mengucapkan kata-kata yang bisa menyebabkan orang yang ada di tempat pernikahan menjadi sedih atau terharu. Ditambah suara musik pendukung.

Tapi saya melihat, suasana mempelai pria dan wanita sedang dalam kegembiraan, karena sebentar lagi mereka menjadi pasangan suami istri yang sah. Sehingga hubungan suami istri menjadi sah bagi mereka, dan juga mendapat berkah. Ketika tiba-tiba suasana menjadi sedih dan haru biru, akhirnya kadang menjadi berlawanan dengan aura acara pernikahan. Di mana seluruh yang hadir memakai baju yang bagus dan juga parfum yang harum semerbak.

Acara meminta maaf sebelum menikah justru menjadi syahdu dan penuh makna ketika masing-masing mempelai di rumah masing-masing meminta maaf kepada orangtuanya. Permintaan maaf yang tulus ini justru bisa menjadi pendorong kebahagiaan pernikahan mereka kelak. Karena orangtua masing-masing sudah memberikan ridhanya. Maka Allah Swt pun ikut meridhai pernikahan mereka. Jika ditunjukkan di depan umum, boleh jadi mereka malu atau merasa seperti terpaksa melakukannya.

Kemudian setelah acara meminta maaf, dilanjutkan dengan meminta izin kepada orangtua atau wali. Dan ini pun dibantu oleh pembawa acara atau EO mengucapkan kata-kata yang seolah-olah diucapkan oleh mempelai pria dan wanita. Sebelum dilakukan acara pernikahan, sudah bisa dipastikan orangtua atau wali memberikan izin kepada anaknya.  Dan selama kegiatan meminta maaf dan izin, pembawa acara atau EO membacakan riwayat hidup masing-masing mempelai. Kadang ada yang diiringi dengan suara seruling.

Iringan musik ini sering diprotes oleh sebagian masyarakat, karena musik di dalam masjid dianggap tidak baik. Padahal pelaksanaan nikah akan lebih khidmat bila dilaksanakan di masjid.

Saya teringat, dulu di kampung jika ada yang mau menikah harus disiapkan beras, rokok, dan kemenyan. Dan ini wajib. Jika tidak ada maka pernikahan tidak akan berlangsung. Ada pula yang menjadikan pernikahan bisa berjalan jika sudah memenuhi beberapa persyaratan. Padahal ini tidak ada dalam ajaran agama. Tapi ini terjadi turun-temurun.

Bisa saja tambahan yang ada dalam acara pernikahan tersebut, yaitu minta maaf dan minta izin  akan dianggap sebagai kewajiban di masa-masa berikutnya. Bahkan kemudian dianggap sebagai bagian dari adat.  Sehingga menjadikan pernikahan menjadi berat. Seperti harus menyediakan dana untuk menyewa EO atau pembawa acara profesional yang bisa menciptakan suasana tertentu. Sedangkan Nabi Saw justru mengajarkan kemudahan menikah.

Di sisi lain, boleh jadi EO atau pembawa acara dengan sukarela membantu acara pernikahan. Akan tetapi ternyata justru mengurangi kesakralan ijab kabul, karena ada acara minta maaf dan minta izin kepada orangtua atau wali. Suasana khidmat justru berkurang, karena yang dianggap berkesan justru minta maaf dan minta izin yang diiringi suara pembaca acara atau EO. Sedangkan acara ijab kabul akhirnya menjadi kurang berkesan, karena di sini pembawa acara atau EO tidak bisa membuat suasana seperti ketika minta izin dan minta maaf.

Maka, mengikuti apa yang sudah diajarkan oleh agama adalah pilihan yang lebih baik. Selain tidak memberatkan, tapi meringankan, juga memotivasi mereka yang sudah mampu untuk menikah bisa melakukannya segera tanpa merasa berat. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang, 15 Agustus 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>