«

»

Megathrust dan Doa

13 Februari 2019

Pada 6 Februari 2019 lalu, bertempat di Aula Kantor Gubernur saya mengikuti Rapat Koordinasi Mitigasi dan Penanganan Bencana Gempa dan Tsunami di Provinsi Sumatra Barat. Rakor ini dihadiri Kepala BNPB dan Kepala BMKG.

Kepala BNPB Let. Jen. Doni Monardo menyampaikan kepada yang hadir, termasuk juga berpesan kepada warga yang ada di pesisir pantai Sumbar dan Mentawai, untuk meningkatkan kesiapan menghadapi gempa megathrust di Mentawai yang berpotensi tsunami. Sementara itu Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan ada 8 zona yang patut diwaspadai terkait masalah kegempaan. Mentawai adalah yang pertama harus diwaspadai.

Apa yang disampaikan oleh Kepala BNPB dan Kepala BMKG merupakan bentuk perhatian pemerintah pusat kepada daerah, khususnya Sumbar agar meningkatkan kesiapsiagaan. Untuk itu, saya menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada pemerintah pusat, khususnya BNPB dan BMKG.

Pada pertemuan tersebut selain Gubernur, Wakil Gubernur, juga hadir para Bupati dan Wali Kota. Dengan adanya 6 arahan Presiden RI melalui kepala BNPB, kami di daerah segera menindaklanjuti agar dimungkinkan tidak terjadinya korban atau setidaknya mengurangi korban.

Datangnya gempa yang diikuti tsunami memang tidak bisa diketahui kapan waktunya. Selaku manusia kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan kesiapan menghadapinya. Berbagai pegetahuan dan teknologi terbaru terus diupayakan untuk mengantisipasi jangan sampai ada korban jiwa.

Berbicara tentang megathrust saya kembali teringat 9 tahun lalu. Waktu itu informasi tentang megathrust menyebar melalui media massa, baik cetak maupun elektronik. Masyarakat sempat resah, karena baru saja gempa besar di akhir September 2009 telah meluluhlantakkan banyak bangunan maupun infrastruktur lainnya.

Tim Sembilan yang berisi para ahli gempa dan tsunami, dan juga ahli dari luar negeri pada Oktober 2010 berkumpul di Auditorium Gubernuran memaparkan hasil penelitian mereka. Mereka memaparkan berbagai kajian geologi serta fakta-fakta yang sudah terjadi. Inti dari penelitian itu adalah akan terjadi gempa besar (megathrust) yang berdampak tsunami besar dalam waktu yang tidak lama lagi. Ibarat buah ranum yang tinggal jatuh ke tanah. Namun tidak disebut pastinya kapan.

Hal ini menyebabkan terjadinya perpindahan orang dari Padang ke berbagai tempat. Baik pindah ke wilayah lain yang ada di Sumbar seperti Bukittinggi dan Payakumbuh, maupun pindah ke luar Sumbar seperti Pekanbaru, Medan dan Jakarta. Selain itu, bangunan yang ada di dekat pantai ada yang dijual murah oleh pemiliknya.

Hal yang juga dilakukan dalam menghadapi kabar tersebut, seluruh lapisan masyarakat bersama para ustaz, ulama berinisiatif untuk memanjatkan doa agar Kota Padang dan Sumbar dijauhi dari terjadinya megathrust yang berdampak tsunami tersebut. Dan untuk mengenang gempa 2009, setiap tahun berbagai elemen masyarakat turut memanjatkan doa agar Sumbar dijauhkan dari gempa besar (megathrust) dan tsunami.

Alhamdulillah, doa yang dipanjatkan oleh berbagai lapisan masyarakat itu dikabulkan oleh Allah Swt. Setidaknya sejak 2010 hingga awal 2019 dengan izinNya jualah megathrust yang dikhawatirkan tidak terjadi. Dan gempa besar diikuti tsunami justru terjadi di Jepang pada 2011.

Maka, tak ada yang lebih baik kita lakukan atas karunia ini selain menambah ketundukan kita kepada Allah Swt, diiringi rasa syukur dan senantiasa ber-istighfar selalu. Semoga megathrust yang diinfokan secara akademis oleh para ahli tersebut atas seizinNya tidak terjadi di negeri ini. Dan tak lupa kita terus memperbaiki cara mengantisipasi untuk meminimalkan korban jiwa jika hal tersebut terjadi.

Memanjatkan doa dan memohon ampunan kepada Allah Swt merupakan cara bagi kita sebagai umat beragama untuk dihindarkan dari munculnya megathrust yang berdampak tsunami. Di mana secara keilmuan pun kita juga sudah berupaya maksimal mengantisipasi munculnya korban jiwa.

Dalam Kitab Shahih at-Targhiib terdapat sebuah hadis yang artinya “Tidak ada yang mampu menolak takdir kecuali doa”. Sedangkan dalam surat Ghafir ayat 60 Allah Swt berfirman yang artinya, “Berdoalah kepadaKu (kata Allah) niscaya akan Aku perkenankan bagimu”.

Sementara itu dalam surat Al Anfal ayat 33 Allah Swt berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka (orang-orang kafir di Mekkah) sementara engkau (wahai Muhammad) masih berada di tengah-tengah mereka, dan tidaklah Allah akan mengazab mereka selama mereka senantiasa ber-istighfar”.

Rasulullah Saw bersabda yang artinya, “Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah Ta’ala selain doa” (HR. Ahmad). Dan di hadis lain Nabi Saw bersabda yang artinya, “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai” (HR. Tirmidzi, hadis ini hasan).

Dari beberapa dalil dalam Alquran dan hadis tersebut kita bisa simpulkan bahwa Allah meminta kita untuk berdoa, dan Ia akan kabulkan doa kita. Selain itu, takdir Allah pun akan bisa berubah dengan doa yang kita panjatkan. Dan berdoa merupakan sesuatu yang pengaruhnya amat besar di sisi Allah. Serta, kita harus yakin bahwa Allah akan mengabulkan doa kita. Dan tak lupa, kita juga harus banyak ber-istighfar agar bencana yang amat besar tersebut tidak terjadi di negeri kita.

Untuk itu, marilah kita ajak orang-orang dekat kita, baik teman, rekan kerja, kerabat, dan lainnya untuk memanjatkan doa agar negeri kita dijauhi dari gempa besar (megathrust) yang berdampak tsunami. Serta, juga mengajak untuk menjauhi kemungkaran dan kemaksiatan. Insya Allah, semakin banyak masyarakat yang berdoa, maka akan semakin dikabulkan oleh Allah Swt. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang, 13 Februari 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>