«

»

Jiwa Berkorban

14 Agustus 2019

Membantu orang lain merupakan perintah Allah Swt kepada umat Islam, tanpa melihat apakah ia kaya atau miskin, mampu atau tidak. Peduli orang lain tidak perlu menunggu kaya, banyak uang, atau mampu. Seorang muslim diminta mengorbankan harta yang dimilikinya untuk dibagi kepada orang lain yang membutuhkan (QS. Al-Baqarah:3). Baik berupa sedekah, infak, zakat, atau wakaf.

Islam adalah agama yang mengajarkan umatnya melakukan kepedulian dan pengorbanan, sekalipun dalam kondisi sulit. Di antaranya sedekah, dan zakat fitrah. Sedekah di saat sulit justru sangat dihargai oleh Allah Swt dan Rasulullah Saw. Sedangkan zakat fitrah tetap wajib meskipun kepada muslim yang kondisinya dalam keadaan susah. Tak heran jika tidak sedikit umat Islam yang kondisinya susah tapi terbiasa membantu, dan berkorban, baik jiwa maupun harta.

Satu di antara kisah pengorbanan yang dilakukan oleh umat Islam pada tahun ini adalah kisah seorang nenek bernama Sahnun, berusia 60 tahun, yang berlokasi di Kota Mataram, NTB. Ia bukanlah orang mampu atau kaya. Ia hanyalah seorang pemulung. Tapi memiliki semangat tinggi untuk berkurban.

Kisahnya menjadi viral karena masuk ke dalam tayangan sebuah stasiun televisi swasta. Sebuah travel penyelenggara umroh berniat mengumrohkan nenek Sahnun dengan biaya ditanggung sepenuhnya oleh travel tersebut, setelah pimpinannnya menonton kisah nenek Sahnun .

Ketika perwakilan travel bertemu nenek Sahnun dan menyampaikan keinginan mereka mengumrohkan nenek Sahnun, sang nenek menyatakan ia tak pantas umroh karena tidak punya uang untuk biaya umroh. Nenek Sahnun menjaga dirinya untuk tidak meminta-minta. Padahal segala biaya akan ditanggung oleh travel. Namun akhirnya setelah dibantu oleh penduduk setempat dengan bahasa yang dimengerti sang nenek, ia bisa memahami dan menerima.

Seorang nenek Sahnun yang hidupnya sebagai pemulung dan masuk kategori butuh bantuan, justru rela mengorbankan uang yang dimilikinya untuk membeli hewan kurban. Ia memberikan uang yang dimilikinya sebesar 10 juta rupiah hasil kerja memulung selama lima tahun kepada pengurus sebuah masjid untuk membeli hewan kurban dalam sebuah acara pengajian. Meskipun bekerja sebagai pemulung, nenek Sahnun bukanlah peminta-minta.

Memang inilah yang diajarkan oleh Islam kepada umatnya agar mau berkorban untuk orang lain, meskipun kondisi diri sendiri dalam keadaan yang masih sulit. Pengorbanan merupakan bagian dari kehidupan umat Islam dalam 24 jam. Seorang suami, mengorbankan dirinya untuk mencari nafkah bagi istri dan anaknya. Seorang ayah, mengorbankan dirinya agar anaknya bisa mendapatkan yang terbaik untuk kehidupannya.

Terkait perintah berkorban untuk orang lain, dalam bahasa Arab dikenal “itsar” yang artinya mendahulukan orang lain, dan juga “tabadul hadaya” atau saling memberikan hadiah. Kedua hal yang terkait pengorbanan ini juga menjadi bagian dari kehidupan Rasulullah Saw dan diikuti oleh keluarga dan sahabatnya. Sehingga hal ini juga membentuk suatu ikatan persatuan yang kokoh.

Dalam setiap pelaksanaan kurban di Hari Raya Idul Adha, kita diingatkan dengan kisah Nabi Ibrahim. Beliau sudah mencontohkan bagaimana dirinya harus mengorbankan anaknya Ismail. Ibrahim melalui mimpi menerima wahyu dari Allah Swt untuk mengorbankan anaknya dengan cara menyembelih. Dan kemudian Allah ganti anaknya yaitu Ismail dengan domba, sehingga anaknya tetap selamat.

Allah Swt menyatakan bahwa kurban yang dilakukan oleh umat Islam bukan daging hewan kurbannya yang dilihat, yang sampai kepadaNya adalah ketakwaan kepada Allah Swt (QS. Al-Hajj: 37). Di antaranya adalah jiwa berkorban. Sedangkan kambing, sapi yang menjadi hewan kurban adalah simbol dari jiwa berkorban umat Islam. Maka, dengan pelaksanaan penyembelihan hewan kurban setiap tahun pada saat Hari Raya Idul Adha, sudah sepantasnya umat Islam memiliki jiwa berkorban dan menguatkan kualitasnya. Dan tidak hanya pada waktu Hari Raya Idul Adha saja, tetapi di setiap waktu. Karena jiwa berkorban juga akan menjadi rahmat bagi seluruh manusia dan makhluk lainnya.

Alhamdulillah semangat berkorban masyarakat Sumbar yang ditunjukkan dengan jumlah hewan kurban, tahun ini mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Semoga Allah Swt membalas pengorbanan ini dengan balasan terbaik.

Bertepatan dengan bulan Agustus, yang merupakan bulan kemerdekaan, kita juga diingatkan dengan sejarah perjuangan bangsa. Di mana para pejuang bangsa telah mengorbankan nyawanya untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Dari sejarah perjuangan bangsa kita juga bisa melihat besarnya pengorbanan umat Islam dalam membebaskan bangsa ini dari penjajahan, tanpa menafikan umat beragama lain yang juga ikut berjuang. Perjuangan yang menghendaki pengorbanan harta dan jiwa memang merupakan bagian dari ajaran Islam.

Semoga dengan momentum Idul Adha dan juga Peringatan Kemerdekaan RI yang keduanya jatuh di bulan Agustus pada tahun ini, memberikan motivasi kepada kita agar senantiasa memiliki jiwa berkorban, baik kepada keluarga, masyarakat, agama, bangsa dan negara. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang 14 Agustus 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>