«

»

Bulan Inklusi Keuangan

31 Oktober 2019

Pada 27 Oktober 2019 saya menghadiri Festival Akbar Bulan Inklusi Keuangan Sumbar Tahun 2019 di GOR H. Agus Salim Kota Padang. Festival diinisiasi oleh OJK Sumbar bersama bank-bank yang ada di Sumbar. Acara ini digelar dalam rangka mengajak masyarakat untuk menggunakan jasa bank seperti menyimpan uang, mengajukan pembiayaan, menggunakan kartu debit atau kartu atm sebagai alat pembayaran berbagai transaksi keuangan.

Inklusi keuangan sudah diatur dalam Perpres No. 82 Tahun 2016 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI). Perpres ini dimaksudkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan. Selain itu juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, percepatan penanggulangan kemiskinan, dan pengurangan kesenjangan antarindividu dan antardaerah.

Perpres tentang SNKI juga sebagai pedoman bagi gubernur dan bupati/wali kota dalam menetapkan kebijakan daerah yang terkait dengan SNKI pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

Adapun definisi dari keuangan inklusif yang tertuang dalam Perpres tersebut adalah, kondisi ketika setiap anggota masyarakat mempunyai akses terhadap berbagai layanan keuangan formal yang berkualitas secara tepat waktu, lancar, dan aman dengan biaya terjangkau sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pemprov Sumbar telah membentuk Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) guna memperluas akses keuangan di daerah. Selain itu, pemda bersama OJK dan bank-bank juga mengadakan program “Rabu menabung” sebagai salah satu upaya mengajak masyarakat menabung di bank.

Contoh penerapan inklusi keuangan bisa dilihat di negara-negara maju. Di sana bisa dikatakan hampir tidak ada lagi masyarakat yang menggunakan uang tunai untuk transaksi keuangan. Karena sudah digantikan kartu atau aplikasi. Serta didukung dengan perkembangan teknologi seperti penggunaan mobil banking dan internet banking di ponsel pintar.

Masyarakat di negara maju tidak lagi membawa uang tunai ke mana-mana. Uang mereka sudah disimpan di bank. Ketika mereka ingin bertransaksi keuangan, tinggal menggunakan kartu debit, kartu kredit, atau mobile banking, internet banking dan sms banking.

Hal seperti itu menjadikan kehidupan mereka lebih efektif dan efisien, karena tidak harus membawa uang tunai. Membawa uang tunai dengan jumlah besar memiliki risiko yang besar juga. Maka dengan disimpan di bank, risiko bisa diminimalkan. Di samping itu, dengan disimpan di bank, mereka tidak terdorong untuk konsumtif.

Dengan menyimpan uang di bank, memudahkan masyarakat untuk membayar berbagai tagihan tanpa perlu datang ke loket satu per satu dengan membawa uang tunai. Masyarakat juga mudah untuk mengirim uang, seperti uang sekolah ke anaknya yang kuliah di luar kota atau sekedar memberi uang jajan untuk anaknya yang sedang berada di tempat lain. Banyak kemudahan yang bisa diperoleh ketika masyarakat menyimpan dananya di bank.

Di Sumbar, terdapat beberapa kendala yang menyebabkan partisipasi masyarakat untuk menabung kurang bersemangat. Sehingga persentase Sumbar masih rendah jika dibandingkan dengan persentase nasional. Hal ini menyebabkan rasio tabungan dengan penyaluran pembiayaan tidak seimbang. Animo mendapatkan pembiayaan tinggi, tetapi animo menabung tidak tinggi. Sehingga ada dana yang dibawa dari luar guna menyediakan pembiayaan bagi nasabah di Sumbar karena dana tabungan tidak mencukupi.

Bagi para pelaku usaha, uang mereka memang ada yang tidak disimpan di bank dan lebih memilih untuk diputar untuk kegiatan usaha mereka (produktif). Sementara bagi masyarakat yang bukan pelaku wira usaha, seperti ASN, pegawai swasta, guru, mahasiswa, dan lainnya, akan lebih aman menyimpang uangnya di bank. Memang perlu ditelusuri lebih jauh jika kita ingin mendapatkan alasan mengapa masih banyak orang yang tidak memiliki tabungan atau menyimpan uang di bank.

Jika ada yang menganggap menyimpan di bank terkendala masalah agama sehingga tidak mau menyimpan uangnya di bank, sudah ada bank syariah yang bisa dijadikan alternatif tempat menyimpan. Jika masih berpikir lebih aman memegang uang sendiri, ketika uang tersebut hilang, tidak ada yang akan mengganti. Sebaliknya, tabungan di bank sudah dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan dengan nilai maksimal Rp 2 miliar untuk satu orang nasabah pada satu bank. Selain itu, biaya-biaya yang ada di bank kini juga semakin lebih murah. Seperti biaya transfer antar bank, penarikan uang tunai di atm bank lain. Bahkan ada tabungan yang tidak menarik biaya administrasi bulanan.

Dengan berbagai kemudahan, keamanan, kenyamanan, dan kemajuan teknologi yang ada di bank, masyarakat semakin diuntungkan jika menyimpan uangnya di bank. Oleh karena itu, kami mengapresiasi OJK dan bank-bank yang ada di Sumbar serta juga pemda yang ada di Sumbar, yang telah berupaya menelurkan berbagai program inklusi keuangan yang memberikan manfaat positif kepada masyarakat. Semoga semakin banyak masyarakat yang menggunakan jasa bank sehingga kehidupan mereka turut terbantu, dimudahkan, efisien, efektif dan juga dilindungi uangnya oleh lembaga terkait. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Harian Singgalang, 31 Oktober 2019

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>