«

»

Menyikapi Takdir

26 Maret 2020

Kita baru saja melewati momen peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw yang bertepatan dengan tanggal 22 Maret 2020. Salah satu hikmah dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw adalah kaum muslimin harus mengimani apa yang disampaikan Rasulullah Saw. Pada saat Rasulullah Saw melakukan Isra’ Mi’raj, orang beranggapan mustahil jika ada orang yang bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan jarak sangat jauh dalam semalam. Tapi saat ini dengan kemajuan teknologi hal demikian sudah tidak mustahil lagi.

Mengimani Nabi Allah adalah salah satu rukun iman. Termasuk juga mengimani takdir, adalah rukun iman yang lainnya. Berbicara tentang mengimani takdir, saat ini kita ditakdirkan hidup di zaman modern yang penuh kemajuan teknologi. Kita sungguh sangat beruntung mendapatkan takdir baik. Namun dalam kehidupan sehari-hari kita juga kadang mengalami takdir buruk atau musibah. Misalnya, hujan lebat yang turun terus menerus menimbulkan tanah longsor dan banjir. Sehingga jalan terputus atau sebuah wilayah menjadi terisolasi. Akhirnya kita tidak bisa bepergian ke suatu tempat.

Contoh lain takdir buruk, adalah seorang siswa yang menempuh ujian akhir dinyatakan tidak lulus. Seseorang yang mengikuti tes seleksi penerimaan CPNS, gagal dan tidak lolos seleksi karena nilainya rendah.

Sering pula orang berkata setelah mengalami takdir buruk, seandainya ia rajin belajar mungkin ia akan lulus sebuah tes. Seandainya ia bangun lebih awal, mungkin tidak akan ketinggalan kendaraan dan lolos dari kemacetan sehingga bisa mengikuti sebuah tes yang akan mengubah nasibnya. Takdir buruk adalah sebuah ketentuan yang berlaku setelah seseorang melakukan sebuah kegiatan atau usaha. Maka, sebagai bentuk mengimani takdir buruk tersebut adalah bersangka baik kepada Allah Swt. `

Allah Swt berfirman dalam Al Quran surat Al-Baqarah ayat 155-156 yang artinya, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan : Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNyalah kami kembali)”.

Saat ini dunia tengah menghadapi pandemi virus Corona. Organisasi kesehatan dunia (WHO) telah menyarankan tindakan yang harus dilakukan dalam menghadapi kejadian ini. Pemerintah juga telah menyampaikan kepada masyarakat tindakan yang harus dilakukan untuk menjaga keselamatan diri mereka.

Di balik perisitiwa yang kita lihat pada saat ini, mungkin saja ada kasih sayang Allah yang jauh lebih besar yang akan diberikan kepada kita jika kita bersabar, bersangka baik kepadaNya, dan berusaha maksimal. Salah satu contohnya adalah, adanya kerja di rumah dan libur sekolah bisa menjadikan orang tua dan anak lebih dekat, lebih saling menyayangi, lebih perhatian.

Selain itu, pelaksanaan pembelajaran online bagi anak dan komunikasi online bagi orang tua yang bekerja di rumah menjadi lebih sering dibanding sebelumnya yang bahkan belum pernah ada sebelum pandemi. Saat ini kita pun semakin sadar dengan pentingnya mencuci tangan. Dan kita juga melihat solidaritas sosial yang semakin menguat di antara anak bangsa untuk mendukung para tenaga kesehatan berjuang mengobati para pasien serta mereka yang mata pencahariannya menjadi terpuruk.

Bersangka baik kepada Allah dengan tetap berusaha maksimal diiringi berdoa kepadaNya agar kita terhindar dari cobaan dan musibah, akan menjadikan diri kita merasakan bahwa Allah Swt adalah Tuhan Yang Maha Penyayang. Sehingga kita pun di masa yang sulit ini, bisa mendapatkan ketenangan. Di dalam Alquran surat Ar-Ra’d ayat 28 Allah Swt berfirman yang artinya, “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenang”.

Menyikapi takdir buruk yang tengah terjadi bukan merupakan sebuah kepasrahan. Akan tetapi harus disertai usaha. Allah Swt berfirman dalam Alquran surat Ar-Ra’d ayat 11 yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.

Satu hal untuk mengubah keadaan saat ini adalah mengikuti anjuran yang sudah disampaikan oleh pemerintah yang dibantu sosialisasinya oleh berbagai elemen masyarakat lainnya dalam menghadapi pandemi Corona. Kita mesti bersama-sama mengikuti anjuran untuk menghadapi pandemi Corona. Karena jika tidak melakukannya bersama, apa yang diharapkan bersama bisa tidak tercapai dan merugikan kita sendiri.

Jangan jadikan diri kita lebih sibuk menghujat, mencaci, menyalahkan yang bisa menyebabkan turunnya kondisi kesehatan badan sehingga merugikan diri dan keluarga. Bersangka baik kepada Allah Swt diiringi perilaku yang baik sambil mengikuti anjuran untuk menjaga diri, insya Allah akan menjadikan tenang dan kuat menghadapi kondisi saat ini. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Harian Padang Ekspres 26 Maret 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>