«

»

Pendidikan Karakter, Solusi Atasi Masalah Moral

19 November 2015

Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, PSi, MSc., Datuk Rajo Bandaro Basa mengajukan pendidikan karakter sebagai solusi mengatasi masalah moral dan hilangnya rasa malu di Sumatera Barat. Sebagai seorang psikolog, pendidik dan guru besar bidang pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), Irwan Prayitno paham betul, kesalahan terbesar dunia pendidikan di Indonesia selama ini adalah hanya berkutat pada domain kognitif dalam sistem pendidikan.

 

Domain kognitif adalah sistem pendidikan yang hanya menerapkan pengajaran tentang bagaimana mengenal dan memahami suatu masalah dan persoalan tanpa mengerti, mengahayati, menerapkan ajaran-ajaran posistif serta keteladanan dari para pendidik dalam memberikan pengajaran dan pendidikan. Hasilnya, dapat dilihat bersama pada saat sekarang ini banyaknya timbul kekerasan dan perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan oleh pelajar-pelajar dan generasi muda.

 

Krisis moral yang seakan tidak berkesudahan, menimpa semua elemen bangsa. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan mencontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, perusakan milik orang lain, dan budaya korupsi sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas.

 

Ini adalah efek dan dampak secara tidak langsung kurangnya penghayatan, pengertian serta penerapan hal-hal positif dalam ajaran pendidikan. Untuk itu, penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character education)  dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara ini. Konsep pendidikan karakter yang dimajukan Irwan Prayitno bertumpu pada ajaran agama, adat dan budaya, dan nasionalisme. Kata kuncinya, kurikulum yang harus dilaksanakan adalah keterpaduan antara kognitif, afektif dan psikomotorik.

 

Dari segi pembelajaran agama, siswa tidak hanya dilatih untuk sekedar menghafal, tetapi mempraktikkan dan membiasakan siswanya untuk melakukan syariat Islam seperti shalat, puasa, berbuat baik, jujur, disiplin, dan seterusnya. Membiasakan siswa melakukan semata untuk membina karakter siswa agar mereka sukses dunia dan akhirat. Siswa tak hanya berkutat pada fiqh dalam mempelajari agama, tetapi juga akhlak sebagai model ajaran agama sebagaimana dicontohkan Baginda Nabi Muhammad saw.

 

Demikian juga ketika memberikan pemahaman tentang budaya dan adat Minangkabau (BAM), sebagai muatan lokal dalam pembelajaran, siswa tidak hanya diajarkan menghafal pepatah, petitih, mamang, bidal, pantun, dan gurindam seja, tetapi juga diajarkan makna yang dikandung dalamnya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebegitu dalam filsafat yang dikandung oleh ajaran adat Minangkabau, yang jika diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, akan menjadikan pengamalnya memiliki budi pekerti yang agung.

 

Sebagai contoh: “Jikok panghulu bakamanakan, maanjuang maninggikan. Pandai nan usah dilagakkan manjadi takabua kasudahannyo”, artinya pengetahuan dan kepintaran jangan dibanggakan karena mengakibat hati menjadi takabur jadinya. “Jauah cinto mancinto, dakek jalang manjalang”, artinya rasa kekeluargaan yang tak kunjung habis, walau jauh dimata tapi dekat dihati. “Jangek suriah kuliklah luko, namun lenggok baitu juo”, artinya seseorang yang tidak tahu diri walaupun dia telah jatuh hina karena perbuatannya, tetapi dia tetap membanggakan diri.

 

Penanaman nilai-nilai nasionalisme juga merupakan bagian terpenting dari pendidikan karakter tersebut. Pengenalan pada sejarah bangsa, kepahlawanan, dan jiwa patriotisme bertujuan agar anak bangsa tidak kehilangan jati diri dan tercabut dari akar sejarah bangsanya. Nasionalisme perlu ditumbuhkan sejak dini. Sejak di bangku sekolah agar kelak anak memiliki sikap nasionalisme ketika sudah dewasa.

 

Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat M. Sayuti Dt Rajo Pangulu menyambut baik gagasan yang diberikan Irwan Prayitno tersebut dalam mengatasi permasalahan moral dan hilangnya rasa malu di negeri ini. Menurutnya, dalam melaksanakan pendidikan karakter di Sumatera Barat, segmennya terbagi tiga, yaitu karakter emosional, karakter spiritual, dan dan karakter intelektual. Karakter intelektual dibangun dengan pendidikan, karakter emosional dibangun dengan adat, dan karakter spiritual dibangun dengan syarak.

 

“Menurut saya, ini yang harus ditekankan oleh pemimpin Sumatera Barat ke depannya. Jika seseorang sudah memiliki spiritual yang kuat, intelektualnya cerdas, dan emosionalnya stabil, maka seseorang tersebut akan memiliki karakter. Kita di Minangkabau ini ada tiga yang membentuk karakter kita, yaitu adat, agama, dan ilmu. Jadi itu yang harus kita betulkan, sesuai benar dengan program pak Irwan Prayitno. Cuma itu harus diwujudkan dalam suatu program yang fokus. Di Sumatera Barat ini, emosional orang tidak stabil lagi. Dulu orang Minangkabau terkenal sopan santun, arif bijaksana, tetapi sekarang orang Sumatera Barat sudah dikenal pamberang (pemarah, red). Ini berarti tidak memiliki karakter lagi. Jadi, harus kita kembalikan reformasi mental itu, Nawacita ke arah itu,” ungkap M. Sayuti Dt Rajo Pangulu.

 

Wallahu A’lam Bishawab, dan hanya Allah yang Maha Mengetahui.

 

Ditulis Oleh:

Zamri Yahya

Mantan Ketua Bidang Kajian Strategis KAMMI Komisariat IAIN Imam Bonjol Padang

 

Bentengsumbar.com, 19 November 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>