«

»

100 Minang Mart Beroperasi

24 Mai 2016

Padang, Singgalang

Hari ini, Selasa (24/5) 100 unit Minang Mart (MM) resmi beroperasi. Sejumlah unit usaha sudah bergabung yakni toko koperasi yang memiliki pegawai. Apa yang dijual? “Barang sejuta umat” yaitu kebutuhan harian.

MM bertujuan memotong rantai distribusi menjadi lebih pendek, dengan demikian, margin keuntungan pedagang lebih besar dan konsumen bisa membeli lebih murah. Rantai yang hendak dipotong itu, dari produsen UMKM dan petani. Dari produsen langsung ke BUMD. Ini sekaligus bisa mengendalikan inflasi. Rantai lain yang hendak dipotong barang- barang cepat habis dan kebutuhan harian (consumers goods) seperti deterjen, sabun, pasta gigi, minuman bersoda, minum kaleng tanpa soda, biskuit, kopi, pelembab, margarin, susu, pengharum badan, pisau cukur, pembalut, popok bayi dan lainnya.

100 koperasi

Dari 100 koperasi tahap awal itu, antara lain, Koperasi Kapur Warna Siteba, Jujur Tabing dan Koperasi SKPD kantor gubernur. Koperasi yang 100 itu dinilai feasible (layak) yang tercatat di Dinas Koperasi provinsi.

“Besok diluncurkan, sudah ada 100 koperasi yang punya toko dan pegawai untuk operasional, sekaligus dilakukan penandatanganan nota kesepahaman tiga BUMD untuk mewujudkan Minang Mart,” sebut Gubernur Irwan Prayitno, kemarin.

Selanjut bagi masyarakat yang ingin bergabung bisa mendaftar pada Minang Mart di kantor pusatnya, Lantai II, Craft Center Khatib Sulaiman.  Setelah membuat kesepakatan, jika setuju langsung beroperasi.

“Ini murni bisnis, tidak menggunakan APBD sama sekali,” tambahnya.

Disebutkannya, ada empat klaster bentuk Minang Mart yang akan diluncurkan tersebut. Klaster itu tergantung dengan kondisi modal masyarakat yang bergabung dalam usaha yang dikelola Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) tersebut. Klaster itu tergantung dengan kondisi modal masyarakat yang bergabung dalam usaha yang dikelola Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) tersebut.

Kelas terdiri, kelas A adalah Minang Mart yang memiliki bangunan lebih besar, fasilitas lengkap dan buka 24 jam.

Kemudian, kelas B, dengan kapasitas di bawah kelas A. Sementara untuk kelas C untuk warung, bagi masyarakat yang sudah punya warung bisa bergabung dengan Minang Mart. Kemudian kelas D, yakni gerobak. Gerobak yang jualan dengan kaki lima dapat bergabung dengan Minang Mart, kurang modal juga bisa pinjam di Bank Nagari, begitu juga agunan diberikan Jamkrida.

“Tidaknya hanya bisa beli barang, tapi juga diberikan teknologi informasi (IT) melalui IT itu bisa buat jual pulsa, pembayaran listrik dan PBB,” sebut Irwan Prayitno.

Dijelaskannya, hadirnya Minang Mart untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selama ini pedagang juga tidak bisa meningkatkan penghasilan, karena tidak bisa mendapatkan keuntungan besar karena membeli barang tidak dari produsen atau distributor pertama. Apalagi petani, hasil panen sulit untuk dijual.

“Apalagi UMKM, kalaupun memproduksi banyak, tapi mau dijual kemana. Tapi kalau sudah ada Minang Mart, semuanya akan ditampung. Harganya akan terkendali,” ujarnya.

Dikatakannya, ada tiga BUMD berkolaborasi membentuk 1.000 Minang Mart untuk mengendalikan harga dan angka inflasi serta meningkatkan kesejahteraan koperasi juga Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di daerah itu.

“Konsepnya sudah ada. Tinggal peluncuran saja. Kalau bisa akhir bulan ini juga,” kata Irwan Praytino.

Tiga BUMD itu menurutnya Bank Nagari sebagai pemberi kredit, Grafika sebagai pengelola dan Jamkrida sebagai penjamin kredit.

“Tiga BUMD ini akan saling bahu membahu untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Menurutnya, ada sebagian pihak yang meragukan konsep itu, karena membutuhkan infrastruktur, sarana prasarana yang banyak. Namun, Irwan meyakinkan, untuk merealisasikan program itu, tidak banyak infrastruktur yang harus disediakan pemerintah karena sebagian besar sudah tersedia.

“Gudang tempat penyimpanan barang ada. Nanti akan ditambah lagi dengan gedung inflasi yang sekarang sedang dikerjakan. Sedangkan untuk outlet-nya, kita tidak perlu membangun lagi, karena kita bekerjasama dengan pedagang yang sudah ada,” katanya.

Ia menjelaskan, pedagang yang nanti ingin bergabung dengan jaringan Minang Mart, tempat usahanya akan di-branding dengan logo Minang Mart, sementara kepemilikan tetap pedagang.

Artinya, menurut Irwan, tidak ada monopoli dalam konsep 1000 Minang Mart tersebut. Grafika sebagai pengelola akan berfungsi sebagai agen distributor untuk semua barang, terutama yang berpotensi untuk meningkatkan angka inflasi di Sumbar.

Manfaat

Menurut Irwan Prayitno jika dilihat kondisi warung-warung yang ada, semakin terjepit karena harga beli yang makin tinggi. Setelah diskusi dengan berbagai pihak termasuk dengan pemilik warung, diketahuilah sebabnya. Mereka ternyata kurang mampu bersaing.

Sebabnya tidak bisa langsung akses kepada suplier karena jumlah pembelian yang sedikit. Karena barang yang tersedia kurang bagus. Pelayanan kepada konsumen kurang diperhatikan. Akses kepada permodalan kurang tersedia karena kurang tertata pembukuan.

“Kalau dibiarkan tentu akan banyak dunsanak kita yang akan tergulung zaman, selamanya kecil, selamanya di bawah, lalu apa solusinya supaya bisa lebih baik? Irwan menjawab, tidak boleh ada kepentingan swasta atau pemodal, tidak terjadi sentralisasi kekayaan.

Untuk mendapatkan harga lebih bagus harus menyatukan mereka dalam sentral purchasing, sehingga volume pembelian besar dan harga menjadi lebih murah sehingga menerima margin.

Menyediakan sistem pencatatan dengan IT supaya mereka bisa dapat akses keuangan dan perbankan. Memberikan kredit dengan bunga murah supaya dunsanak kita bisa berkembang usahanya dengan dijamin jamkrida. Kepemilikan 100% mereka sendiri tidak ada berkurang sedikitpun.

Yang bisa ikut mulai dari gerobak, warung dan toko. Pendapatan lainnya bisa jual pulsa online, bayar listrik, pengiriman uang.

“Inilah cara terbaik melindungi warung-warung kita. Menurunkan pengangguran karena untuk berdagang modal bisa pinjam Bank Nagari dengan bunga rendah.”

Cara kerja

Grafika dipilih karena selama ini kinerjanya cukup bagus dan tidak merugi. Cara kerja Minang Mart itu menurutnya, Grafika akan membeli produk yang dibutuhkan pedagang langsung dari tangan pertama dengan jumlah banyak. Misalnya untuk komoditi beras dan cabai, akan dibeli langsung dari petani dengan harga yang wajar dan disimpan di gudang Minang Mart.

Kemudian, pedagang yang telah tergabung ke dalam jaringan 1000 Minang Mart, bisa membeli barang ke gudang.

“Karena kita beli banyak, tentu saja harganya akan lebih murah. Kita juga bisa beri harga murah pada pedagang anggota Minang Mart,” kata dia.

Karena pedagang membeli dengan harga murah pada gudang Minang Mart, tentu mereka juga bisa menjual murah pada masyarakat sebagai konsumen tanpa harus rugi.

“Mereka kan bisa tetap untung. Sedangkan masyarakat terbantu,” ujarnya.

Hal itu menurut Irwan sekaligus akan bisa mengendalikan harga komoditi di pasar dan secara langsung akan berimbas pada turunnya angka inflasi.

“Kalau Minang Mart menjual dengan harga murah, tentu pedagang di pasar tidak bisa menaikkan harga semaunya. Kalau dinaikkan juga, masyarakat pasti beralih ke Minang Mart,” katanya.

Irwan menambahkan, pedagang yang ingin menjadi jaringan Minang Mart, tetapi kekurangan modal, akan dibantu kredit usaha oleh Bank Nagari dengan bunga ringan hanya 7 persen.

“Kalau pedagang itu ingin meminjam tapi tidak ada agunan, maka Jamkrida akan turun tangan untuk membantu. Tetapi, ini tentu untuk mereka yang benar-benar serius dalam berusaha,” katanya.

Direktur PT Grafika Jaya Sumbar, Dasril mengatakan, pihaknya siap untuk melaksanakan konsep tersebut. Saat ini tim dari Grafika telah menyelesai konsep Minang Mart. “Secara sumber daya kita siap,” tegasnya.

Consumer goods

Untuk barang-barang di Sumbar sendiri seperti beras, kelapa, cabe, kol, kentang, makanan hasil industri rumah tangga, dibeli langsung oleh BUMD ke produsen. Pemprov dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang di dalamnya ada Bank Indonesia, sudah punya data lengkap kemana dan dimana barang tersebut dibeli. Di bagian ini akan ada gula, terigu, minyak goreng dan lainnya.

Barang comsumer goods pabrikan yang akan dijual di MM tentu saja berupa produk kebutuhan badan, seperti juga di lapau-lapau. Kemudian barang kbutuhan sehari-hari di rumah, dapur, di kantor, berikut alat kebutuhan kerja dan hidup seperti selotip, staples, alat gantung kertas catatan, tempat penyimpanan alat tulis dan lainnya.

Berikut beberapa perusahaan produsen kebutuhan hari, Arta Boga Cemerlang, Bogacitra Nusapratama, Borwita Citra Prima, Hanjaya Inti Abadi, Honeywell Indonesia, Indofood CBP Sukses Makmur, Orang Tua, Intrasari Raya, Japfa Santori Indonesia, Nutren International, PZ Cussons Indonesia, Sahabat Financial Keluarga, Tempo, Ultinet Indonesia, BAT Indonesia, Coca Cola Amatil Indonesiam Lotte Indonesia, Unilever Indonesia, Wings dan lain-lain. (104)

Singgalang, 24 Mei 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>