«

»

Pendaftaran Minang Mart Membeludak

27 Mai 2016

Fahmi Idris: Masih Perlu Penyempurnaan 

Program 1.000 Minang Mart yang kini sedang berlangsung pelaksanaannya, dinilai mantan Menteri Perindustrian Fahmi Idris harus terus disempurnakan konsepnya. Karena itu, diskursus yang saat ini terjadi di tengah masyarakat, menurutnya perlu ditampung untuk perbaikan Minang Mart ke depan.

Bersamaan dengan itu, dalam acara sosialisasi sekaligus pendaftaran Minang Mart di Aula Anggun Nan Tongga Bank Indonesia Perwakilan Sumbar di Jalan Sudirman Padang, disambut antusias para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

 

Ratusan saudagar dari berbagai daerah di Sumbar, berebut mengisi formulir pendaftaran. Tidak sedikit pengunjung yang tidak kebagian kursi sehingga terpaksa melantai.

Direktur PT Jamkrida Sumbar, Munandar Kasim, Direktur PT Grafika Jaya Sumbar Dasril, Direktur Kredit dan Syariah Bank Nagari Hendri, memaparkan konsep Minang Mart di hadapan ratusan UMKM. Hadir saat itu Gubernur Irwan Prayitno.

Dalam kesempatan itu, Gubernur kembali menegaskan keberadaan Minang Mart memberi keuntungan kepada banyak pihak. Apakah pedagang, kepada produsen, atau masyarakat.

“Pedagang mendapat bantuan modal dari Bank Nagari, jaminan pembiayaan modal kerja dari Jamkrida, dan bantuan supply stock, pengelolaan dan manajemen secara profesional dari PT Grafika Jaya,” ujar Irwan Prayitno.

Jika pedagang sekarang ini membeli odol dengan modal Rp 1.000 dan dijual Rp 1.200, jelas Irwan, bila bergabung dengan Minang Mart, harga modal membeli odol hanya Rp 900. Pasalnya, Minang Mart membeli barang langsung dari pabrik dalam jumlah banyak.

Produsen seperti petani, peternak dan lainnya, sebut Irwan, juga bakal untung. Sebab, Minang Mart juga bekerja sama dengan Gapoktan sehingga harga barang yang dibeli dari produsen lebih baik. Dengan begitu, keuntungan produsen meningkat.

“Jadi produsen beras, cabai dan sebagainya bakal mendapat harga lebih baik. Sebab, Minang Mart langsung membeli produk tersebut melalui Gapoktan,” ucapnya.

Keuntungan bagi masyarakat? Gubernur menjamin harga barang kebutuhan lebih stabil dan terjaga, sehingga mencegah inflasi.

“Meskipun keuntungan lebih besar diperoleh pedagang dan produsen, tetapi harga barang tergabung di Minang Mart tetap sesuai harga pasar, sehingga harga barang kebutuhan stabil,” ucap Irwan.

”Minang Mart jelas berbeda dengan Alfamart atau pun Indomaret, karena Minang Mart dikelola tiga BUMD Sumbar guna mensejahterakan UMKM di Sumbar. Sedangkan Alfamart franchise (waralaba),” ucapnya.

Perlu Penyempurnaan

Menanggapi peluncuran 1.000 Minang Mart, mantan Menteri Perindustrian Fahmi Idsris berpendapat, konsep Minang Mart belum sepenuhnya utuh sehingga membutuhkan penyempurnaan. Karena itu, dia mengajak semua pihak perlu terlibat dalam menyempurnakan gagasan besar ini.

Meski belum sempurna, tokoh Minang ini mengapresiasi terobosan Gubernur Sumbar meluncurkan Minang Mart. “Ya, wajar saja beliau me-launching Minang Mart selaku pimpinan tertinggi di daerah. Tentunya, beliau sudah memiliki banyak pertimbangan sebelum me-launching-nya,” ujar aktivis ‘66 itu.

Dia menjelaskan, Minang Mart bertujuan untuk membuat semacam operasi marketing (pemasaran) produk-produk lokal atau lebih tepatnya jaringan pemasaran.

“Sebetulnya gagasan ini tidaklah orisinil. Beberapa kota sudah menjalankan konsep ini. Dan Minang Mart ini, lebih diarahkan guna memperbanyak jaringan pasar masyarakat menengah dan kecil,” ulas Fahmi Idris yang juga ikut menggagas Minang Mart ini.

Nantinya, jelas Fahmi, Minang Mart didukung pembentukan trading house.

“Khusus trading house ini, memang tak seluas Minang Mart. Tapi, hanya ditempatkan di sejumlah kota-kota besar guna memperluas jaringan pemasaran produk-produk lokal. Artinya, bukan hanya ada di Sumbar, tapi juga di Pekanbaru, Batam dan lainnya. Produk-produk lokal itu tentu sudah memenuhi standar,” ujarnya.

Kendati begitu, dia menyadari gagasan ini belum utuh sehingga menimbulkan prokontra. Terutama, soal format, sistem pelaksanaan, dukungan finansial, dan keterlibatan BUMD.

“Nah, bila masyarakat memiliki pandangan atau pemikiran sendiri, ya mari sama-sama kita rumuskan guna saling melengkapi satu sama lain. Terlebih lagi, masalah marketing bukanlah pekerjaan mudah. Ini rumit, dan berbeda dengan aspek produksi,” ujar dia.

Fahmi menilai paling kurang ada empat aspek yang perlu disempurnakan segera. Pertama, pengelolanya haruslah benar-benar berpengalaman dan memahami seluk-beluk pemasaran. “Artinya, tak semua orang bisa melakukannya,” tukasnya.

Kedua, keberadaan organisasi networking yang mumpuni. Menurutnya, Minang Mart tak harus berada di Sumbar, tapi juga di kota-kota lain di luar Sumbar.

”Ketiga, tak kalah pentingnya, sokongan dana yang cukup besar guna membiayai operasi marketing. Tentunya, keterlibatan perbankan seperti Bank Nagari jelas sangat bagus,” katanya.

Keempat, dukungan pemerintah daerah (pemkab/pemko). “Semua elemen ini harus bersinergi satu sama lain, sehingga keberadaan Minang Mart benar-benar bisa menyejahterakan masyarakat,” ucapnya.

Tipe Usaha

Dalam konsep Minang Mart, terdiri dari empat kelas. Mulai tipe swalayan sampai gerobak dorong dengan beberapa spesifikasi.

Di sisi lain, Direktur Utama PT Grafika Jaya Sumbar, Dasril mengatakan tak memaksa UMKM bergabung dengan Minang Mart. Dari kerja sama tersebut, porsi keuntungan lebih besar untuk pedagang. Rasionya 70 : 30.

Jika selama ini pedagang mengambil barang dari tangan distributor yang panjang, Minang Mart akan memangkas jalur distribusi itu langsung dari produsen atau pabrik. Sehingga, harga barang jauh lebih murah didapatkan pedagang.

“Pedagang Minang Mart dilarang  menjual barang di bawah harga pasar. Prinsipnya, jangan sampai Minang Mart mematikan usaha pedagang lain,” ucapnya.

Pedagang Minang Mart juga dilarang menjual produknya ke ritel. “Jangan mentang- mentang harganya lebih murah, kemudian dijual pula ke peritel. Mereka hanya boleh jual ke pedagang,” tukasnya.

Tujuan pendirian Minang Mart, kata Dasril, untuk menjaga keseimbangan daya beli masyarakat sekaligus menjaga cash flow daerah lewat aktivitas ekonomi. Minang Mart juga bukanlah bisnis waralaba. Sebab, pemilik warung atau kedai tidak terikat penuh dalam mengambil barang pada Minang Mart.

“Dalam kerja sama antara Minang Mart dengan pemilik toko/warung, menganut sistem jual beli putus. Artinya, ketika ada harga satu barang lebih murah dari penyuplai lain, pemilik toko boleh mengambilnya,” ujarnya.

Begitu juga kerja sama antara Minang Mart dengan penyuplai utama. Jika harga yang diperoleh lebih murah dari penyuplai lain, Minang Mart bisa mengambil barang dari penyuplai lain. “Ini bukti bahwa kita bukan waralaba. Ini sekaligus bukti Minang Mart bukanlah perwujudan Transmart,” ungkapnya.

Untuk keanggotaan, Dasril mengatakan sistemnya terbuka. “Ini bukan bagi-bagi bantuan, ini bisnis. Jika gabung silakan. Jika pinjam uang sama Bank Nagari, silakan, tanggung sendiri kewajiban. Setiap anggota Minang Mart harus menandatangani perjanjian,” ungkapnya.

Direktur Kredit dan Syariah Bank Nagari, Hendri mengungkapkan, bukan agunan yang menjadi tolok ukur bagi UMKM yang akan bakal mendapatkan bantuan. Hal utama adalah UMKM tersebut memiliki usaha.

Data Bank Nagari, terdapat 2.371 debitur Bank Nagari berminat bergabung dengan Minang Mart. “Para debitur itu sangat bankable. Selama ini lancar pembayarannya. Makanya saya tegaskan, bagi kami agunan itu nomor dua, terpenting ada usaha,” ucap Hendri. (*)

Padang Ekspres, 27 Mei 2016

Foto: FB Irwan Prayitno

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>