«

»

Berpuasa di Luar Negeri

20 Juni 2017

 

Ketika bersama tim investasi

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mampir di restoran Salero Minang, Den Haag, Belanda

Sumbar akhir Mei 2017 lalu mengunjungi beberapa negara Eropa, ternyata waktu Ramadhan sudah tiba. Maka kami pun berpuasa. Rasanya berpuasa di luar negeri tentu berbeda dengan puasa di Indonesia. Meskipun dalam perjalanan (safar) yang memiliki alasan (uzur) dibolehkan untuk tidak berpuasa, saya dan rombongan tetap berpuasa.

Berpuasa di luar negeri seperti Eropa memang berbeda dengan Indonesia. Kami harus menahan haus dan lapar selama lebih kurang sekitar 18 jam. Sedangkan jika membandingkan dengan kondisi Indonesia, waktu untuk menahan haus dan lapar adalah sekitar 13 jam.  Tentu saja tidak hanya menahan haus dan lapar saja, tetapi juga yang lainnya yang sudah digariskan dalam agama.

“Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Kecuali puasa, amalan tersebut untukKu dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.” (HR. Muslim No. 1151)

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim)

Alhamdulillah kami bisa berpuasa seperti biasanya, tidak sampai keletihan apalagi sakit, meskipun sedang melakukan perjalanan. Dengan rentang waktu yang lebih panjang sekitar 5 jam dari Indonesia, kami bisa melewati puasa dengan baik.

Dengan banyaknya kegiatan yang harus kami ikuti selama di Eropa, alhamdulillah kami ternyata bisa menjalani ibadah puasa di Eropa yang waktunya lebih lama. Saya sendiri sempat bertanya, apa yang menjadikan umat Islam di berbagai belahan dunia ikhlas menjalani puasa dengan perbedaan rentang waktu yang tidak sama. Terutama mereka yang mengalami rentang waktu cukup lama hingga yang paling sedikit waktu antara maghrib dengan subuh.

Dugaan saya, jawabannya adalah kerelaan dan keimanan yang ada pada diri umat Islam, sehingga mereka menjalani puasa tidak semata-mata karena menahan haus dan lapar serta hawa nafsu lainnya. Tetapi juga merupakan kewajiban sebagai orang yang beriman seperti yang difirmankan Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 183 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan  atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Karena jika ada orang yang tidak rela menerima perintah puasa, ia akan merasa kelaparan dan harus makan di saat orang lain berpuasa.

Oleh karena puasa merupakan kewajiban, maka mereka yang berpuasa lebih lama dari saudaranya yang lain tidak merasa iri, bahkan menjalaninya dengan ikhlas. Ini menandakan bahwa puasa itu bisa dilakukan oleh umat manusia di berbagai belahan dunia. Dan artinya, puasa itu tidak milik segolongan kaum saja, tetapi sesungguhnya berlaku universal.

Kita juga bisa melihat bahwa perintah puasa itu adalah untuk seluruh umat islam di seluruh dunia. Tidak terpaku hanya kepada satu dua wilayah saja. Tidak terpaku hanya kepada jazirah Arab atau Asia saja, tetapi juga berlaku di Eropa, Amerika, Australia dan lainnya.

Maka kita dapat melihat bahwa puasa itu bukan berapa lama waktu untuk menahan, tetapi bagaimana keikhlasan dalam menerima dan menjalankan perintah Allah SWT oleh seluruh umat Islam.  Ibarat anak yang mematuhi perintah orangtuanya, itulah pemisalan orang yang berpuasa. Menerima tanpa reserve apa yang diperintahkan Allah SWT.

Satu hal yang patut disyukuri, suasana puasa di Indonesia sangat terasa, baik kekhusyukan dalam beribadah maupun kegembiraan dalam berbuka dan beribadah malam hari. Masyarakat dimanjakan dengan informasi azan maghrib yang massif, baik dari televisi dan radio maupun dari masjid dan mushola, serta sirine. Sedangkan di luar negeri, tidak ada suasana demikian, terutama untuk negara-negara dengan penduduk mayoritas non muslim.

Di luar negeri, orang harus terus melihat jamnya untuk memastikan sudah masuk waktu  Maghrib dan Subuh. Dan jika sudah masuk waktu Maghrib, sudah harus bersiap untuk sahur karena rentang waktu yang pendek. Belum lagi mencari makanan yang halal seperti yang kami alami. Dan jangan ditanya ke masjid mana akan sholat wajib dan tarawih berjamaah, karena sangat sulit menjumpainya. Berbeda dengan kondisi Indonesia yang ramai orang berjualan pebukaan ketika sore. Sementara masjid dan mushola sudah siap dengan ibadah wajib dan tarawih.

Menjalani  langsung puasa di Eropa sekaligus melihat kondisi yang ada, maka tepat sekali firman Allah SWT dalam surat Al Hujurat ayat 13 yang menerangkan bahwa Allah SWT menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, di mana yang paling mulia di sisi Allah SWT adalah orang yang paling takwa.

Ternyata bukan berapa lamanya waktu berpuasa yang Allah lihat, tetapi seberapa patuh mereka kepada perintah Allah SWT. Dan semoga kitapun yang hidup di Indonesia dengan kondisi yang mendukung untuk itu, mampu meraih derajat takwa. Aamiin.   *⁠⁠**

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Padang Ekspres, 20 Juni 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>